Survei: Dua dari Tiga Orang di Dunia Berpikir Demensia Adalah Bagian Normal dari Penuaan
Hasil dari survei tentang sikap dan perilaku umum terhadap demensia mengungkapkan kurangnya pengetahuan global tentang penyakit Alzheimer. Hal ini disebabkan karena dua pertiga orang masih berpikir bahwa demensia adalah bagian normal dari penuaan daripada gangguan neuro-degeneratif.
Laporan Alzheimer's Disease International (ADI) yang diberi judul: Attitudes to Dementia juga menandai Hari Alzheimer Sedunia. Laporan ini mengungkapkan hasil dari survei terbesar yang pernah dilakukan di dunia mengenai sikap dan perilaku umum terhadap demensia melibatkan sekitar 70.000 orang dari 155 negara dan wilayah. Analisis data dilakukan oleh London School of Economics dan Political Science (LSE) UK, mitra dari Alzheimer’s Disease International.
Survei ini mengungkapkan bahwa stigma seputar demensia menghalangi publik untuk tidak segera mencari informasi, saran, dukungan, dan bantuan medis. Padahal hal tersebut dapat secara dramatis meningkatkan kualitas hidup mereka dari demensia, salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia.
Saat ini, jumlah Orang Dengan Demensia (ODD) diperkirakan sekitar lebih dari 50 juta dan akan meningkat menjadi 152 juta di tahun 2050. Ada sekitar 23 juta orang dengan demensia di Asia Pasifik, 1.2 juta di Indonesia dan akan menjadi 4 juta pada tahun 2050.
Laporan tersebut mengungkapkan sikap seputar demensia. Responden dari survei tersebut adalah Orang Dengan Demensia (ODD), family caregivers, perawat, praktisi kesehatan dan masyarakat umum.
Salah satu hasil yang mengkhawatirkan adalah masih berapa banyaknya orang di seluruh dunia yang berpikir bahwa demensia adalah bagian alami dari proses penuaan. 48% responden percaya seseorang dengan demensia tidak akan pernah membaik ingatannya, bahkan dengan dukungan medis, sementara satu dari empat orang berpikir tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah demensia.
Ini merupakan hambatan utama bagi orang yang ingin mengakses bantuan, saran dan dukungan. Stigma serupa juga berhubungan dengan masalah kesehatan mental, yang berfokus pada usia, berdasarkan kurangnya perawatan medis yang tersedia. Maka dari itu masyarakat perlu membuka diri dengan berdiskusi dan menghilangkan stigma agar kita dapat meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan Demensia dan keluarganya.
Pimpinan Alzheimer’s Disease International (CEO) Paola Barbarino mengatakan: "Stigma adalah penghalang terbesar yang membatasi orang di seluruh dunia dari peningkatan kualitas hidup Orang Dengan Demensia. Konsekuensi dari stigma adalah tiga hal yang sangat penting untuk dipahami.
Di tingkat individu, stigma dapat merusak tujuan hidup dan mengurangi partisipasi dalam kegiatan kehidupan yang bermakna dan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah dan kehidupan yang berkualitas.
Di tingkat masyarakat, stigma struktural dan diskriminasi dapat memengaruhi tingkat pendanaan yang dialokasikan untuk perawatan dan dukungan. Saat ini terdapat sangat sedikit informasi tentang bagaimana stigma bermanifestasi dalam kaitannya dengan Orang Dengan Demensia dan bagaimana hal ini dapat bervariasi di seluruh dunia.
Dengan adanya survei dan laporan terperinci ini memberi kita dasar informasi untuk stigma terkait demensia di tingkat global, regional dan nasional dan kami berharap temuan ini dapat memulai reformasi positif di level global."
Laporan itu juga menemukan bahwa sekitar 50% Orang Dengan Demensia merasa diabaikan oleh para praktisi kesehatan (dokter dan perawat) sementara 33% orang berpikir bahwa jika mereka terkena demensia, mereka tidak akan didengarkan oleh para praktisi profesional kesehatan maupun dokter.
Menariknya, 95% responden berpikir bahwa mereka dapat terkena demensia dalam hidupnya dan lebih dari dua pertiga orang (69,3 persen) akan mengambil tes profil genetik untuk mengetahui apakah mereka berisiko terkena demensia. Sementara itu, dua dari tiga orang masih berpikir demensia adalah bagian alami dari penuaan.
Rasa takut terkena demensia juga tinggi secara global, tetapi pemahaman sebenarnya tentang penyakit ini rendah. Ini mengkhawatirkan, karena Demensia dan Alzheimer merupakan penyebab kematian nomor 5 di dunia.
ADI meluncurkan kampanye globalnya “Let's Talk About Dementia” bersama 100 anggotanya di seluruh dunia termasuk Alzheimer Indonesia pada tanggal 1 September untuk menandai awal dari bulan kesadaran mengenai Demensia. Kampanye ini didasarkan pada pemahaman bahwa berbicara tentang demensia membantu mengatasi stigma, menormalkan situasi, dan memotivasi orang untuk mencari tahu lebih banyak, mencari bantuan, saran, dan dukungan.
Dengan sekitar 250 juta penduduk di Indonesia, ada sekitar 20 juta orang lanjut usia (60 tahun ke atas) dan 1.2 juta Orang Dengan Demensia (berdasarkan data Alzheimer's DIsease International, 2017). Setiap 3 detik seseorang di dunia terkena demensia tetapi kebanyakan orang dengan demensia tidak menerima diagnosis atau dukungan.
Hal ini akan membebani ekonomi seiring dengan meningkatnya biaya demensia sekitar US $ 1 triliun - angka yang ditetapkan dua kali lipat pada tahun 2030. Di Indonesia sendiri, biaya demensia adalah US $ 2 miliar (Alzheimer’s Disease International, 2017). Kematian karena demensia meningkat lebih dari dua kali lipat antara tahun 2000 dan 2016, menjadikannya penyebab utama ke-5 kematian global pada tahun 2016 dibandingkan dengan ke-14 pada tahun 2000.
Kampanye "Ayo Bicara Tentang Demensia" bertujuan untuk merangsang percakapan tentang demensia, memahami gejalanya, faktor risiko, siapa yang harus ditanya dan ke mana harus meminta nasihat. Kurangnya pengetahuan tentang demensia menyebabkan asumsi yang tidak akurat tentang dampaknya yang sangat fatal pada orang dan keluarga mereka, serta stereotip negatif tentang bagaimana seseorang dengan demensia akan berperilaku.
Bukti menunjukkan, bahwa ketika Orang Dengan Demensia dan keluarga pendamping mereka dipersiapkan dengan baik dan mendapat dukungan penuh, perasaan kaget, kemarahan, dan kesedihan akan diimbangi oleh rasa tenteram dan terberdayakan.
Di Indonesia, selain dialog ini diadakan serentak dengan melakukan 65 kegiatan di 20 kota, salah satunya adalah dengan dihadirkannya Centre of Excellence Demensia sebagai bentuk kerjasama ALZI dengan Unika Atma Jaya.
Selain itu juga ada acara peluncuran buku A to Z Alzheimer - penanganan gangguan perilaku pada Orang Dengan Demensia karya Dr. dr. Yuda Turana SpS dan DY Suharya. ALZI berharap dengan diluncurkannya buku ini pemahaman publik semakin meningkat demi tercapainya peningkatan kualitas hidup ODD dan keluarganya.(*)
Sumber :
https://www.hariansuara.com/news/kesehatan/16689/survei-dua-dari-tiga-orang-di-dunia-berpikir-demensia-adalah-bagian-normal-dari-penuaan
Demensia (Pikun) adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok gejala yang terdiri dari kehilangan ingatan, gangguan penilaian, disorientasi dan perubahan tingkah laku, yang cukup akut untuk mengakibatkan kehilangan fungsi.
Sunday, September 22, 2019
Thursday, August 22, 2019
Ingatan Berlalu dengan Cepat
Demensia, Ingatan Berlalu dengan Cepat
Menua adalah kepastian. Tak hanya hitungan usia yang menua, fungsi organ tubuh pun akan menua, tak terkecuali otak. Namun, laju penurunan fungsi otak berbeda antara satu orang dan yang lain. Semua bergantung pada investasi kesehatan yang dibangun sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan.
Oleh
DEONISIA ARLINTA
Seorang ibu sedang menjalani tes deteksi dini demensia alzheimer di pelayanan kesehatan yang berada di acara Jalan Sehat Peduli Alzheimer, di Jakarta, Minggu (21/9/2014).
Menua adalah kepastian. Tidak hanya hitungan usia yang menua, fungsi organ tubuh pun akan menua, tak terkecuali organ otak. Namun, laju penurunan fungsi otak berbeda-beda antara satu orang dan yang lain. Semua bergantung pada investasi kesehatan yang dibangun sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan.
Salah satu kondisi penurunan fungsi kognitif otak yang bisa dialami seseorang terutama di usia lanjut adalah demensia. Kondisi ini terjadi ketika penurunan fungsi kognitif otak terjadi secara progresif sehingga mengganggu fungsi sosial pekerjaan. Demensia tidak hanya membawa beban kepada orang yang mengalaminya, tetapi juga orang di sekitarnya.
Menjalani hidup sebagai caregiver atau pendamping bagi orang dengan demensia tidaklah mudah. Berbagai keluhan yang dilontarkan orang dengan demensia cukup rumit, mulai dari penyakit fisik, kesulitan tidur, halusinasi, hingga masalah mental dan emosional. Belum lagi, biasanya orang dengan demensia merupakan lanjut usia.
Kondisi itulah yang harus dihadapi selama delapan tahun oleh Kusumadewi Suharya. Ibunya terdiagnosis demensia sejak 2009. ”Masa-masa itu (saat menjadi pendamping bagi orang dengan demensia) bisa dibilang sebagai sebuah episode kelam yang sungguh tidak mudah bagi saya dan keluarga. Meski begitu, setelah dijalani, kehidupan yang tetap berkualitas dalam mendampingi ODD (orang dengan demensia) harus diciptakan dengan baik,” kata pendiri Alzheimer Indonesia (Alzi) yang biasa disapa DY Suharya ini.
Ia mengakui, berkomunikasi dengan orang demensia butuh pemahaman khusus. Jika dijalankan tanpa pengertian dan kesadaran yang baik justru semakin menjadi beban. Atas dasar itulah, DY pun mendirikan Alzi sebagai wadah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat, khususnya bagi caregiver orang dengan demensia.
Seharusnya demensia (pikun) baru muncul pada usia 90 tahun. Namun, penyakit tersebut bisa timbul lebih dini jika lansia tidak aktif mengisi hidupnya (foto diperagakan oleh model).
Menurut dia, berkomunikasi dengan ODD lebih efektif dengan menyetujui dan mengiyakan pernyataan yang disampaikan dibandingkan dengan membantahnya. Jika ODD mulai emosional sebaiknya pendamping mengalihkan perhatian daripada memberikan alasan yang mungkin mudah dilupakan. ”Selain itu, pastikan pendamping tidak menggurui dan lebih baik ulang kembali apa yang pernah dikatakan. Usahakan menghindari kalimat ’sudah saya beri tahu, kan’,” ucapnya.
Dokter spesialis penyakit saraf dari Rumah Sakit Atma Jaya Jakarta, Yuda Turana, menyampaikan, pengendalian demensia yang terbaik adalah pada aspek pencegahan. Selain itu, pemahaman mengenai gejala demensia juga harus ditingkatkan. Semakin cepat gejala terdeteksi, pengobatan bisa semakin mudah dan bisa menyelamatkan kualitas hidup seseorang.
”Pemahaman yang harus ditanamkan adalah jangan menganggap lupa atau pikun pada warga lansia itu wajar. Pikun adalah gejala awal yang paling umum dialami oleh orang dengan demensia,” ucapnya.
Selain gangguan pada daya ingat, gejala umum lainnya adalah sulit fokus dalam beraktivitas, disorientasi pada lokasi dan hari penting, gangguan dalam berkomunikasi, serta perubahan perilaku dan kepribadian seperti mudah curiga dan depresi.
Biasanya, gejala pada orang dengan demensia ditandai juga dengan kebiasaan menaruh barang tidak pada tempatnya, misalnya menaruh gunting kuku di dalam kulkas. Apabila gejala-gejala tersebut sudah tampak dari orang terdekat, sebaiknya segera bawa ke tenaga kesehatan ahli.
Untuk mendiagnosis demensia, seseorang terlebih dahulu akan diuji secara psikologis dengan tes pertanyaan. Setelah itu, pemetaan otak akan dilakukan melalui pemindaian dengan magnetic resonance imaging (MRI). Pemindaian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan pada kerusakan otak atau gangguan yang terjadi.
Yuda menjelaskan, ada tiga jenis demensia yang cukup banyak ditemui di Indonesia, yakni demensia vaskular, demensia lewy body, dan demensia alzheimer. Demensia vaskular banyak dialami oleh pasien dengan gangguan vaskular (pembuluh darah), seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, dan jantung. Demensia jenis ini bisa diobati agar tidak semakin parah jika fungsi pembuluh darah belum mati.
Demensia lewy body adalah jenis demensia progresif yang mengganggu cara berpikir, daya ingat, dan gerakan tubuh seseorang. Orang dengan demensia lewy body sering mengalami halusinasi visual dan sulit fokus. Terkadang, gejala fisik yang dialami seperti otot kaku, gerak tubuh melambat, dan tremor.
Sementara itu, demensia alzheimer merupakan jenis demensia yang banyak dialami. Gejalanya, seseorang akan mengalami pikun berat, perilaku berubah, dan kehilangan kontrol, seperti buang air di celana. Seseorang yang telah terdiagnosis demensia akan mendapatkan obat-obatan simtomatis atau obat untuk mengatasi gejala yang berfungsi untuk memperlambat laju degenerasi otak.
Yuda menuturkan, kemajuan teknologi dalam pelayanan kesehatan mampu meningkatkan usia harapan hidup seseorang, termasuk orang dengan demensia. Namun, tantangan terbesarnya justru pada kualitas dan produktivitas hidup yang dijalani.
”Pada orang dengan demensia, harapan hidupnya bisa 8-10 tahun, bahkan lebih. Kondisi ini memang baik, tetapi ketika seseorang sudah terdiagnosis demensia ada double burden (beban ganda), yaitu beban bagi orang dengan demensia itu sendiri dan pendamping atau keluarganya. Jadi, langkah terbaik adalah pencegahan dengan gaya hidup sehat serta deteksi demensia sejak dini. Ingat, pikun yang dialami orang lanjut usia itu tidak wajar,” tuturnya.
Sumber :
https://bebas.kompas.id/baca/bebas-akses/2019/08/21/memori-masa-tuademensia-ingatan-berlalu-dengan-cepat/?utm_source=bebas_kompas_id&utm_medium=social&utm_campaign=socmed_share&fbclid=IwAR2DHYzqjmPnGvFxl6aEwpAaOAdb-6fm58YIqlbjN3lcLu1YmPJ09GyvmgI
Menua adalah kepastian. Tak hanya hitungan usia yang menua, fungsi organ tubuh pun akan menua, tak terkecuali otak. Namun, laju penurunan fungsi otak berbeda antara satu orang dan yang lain. Semua bergantung pada investasi kesehatan yang dibangun sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan.
Oleh
DEONISIA ARLINTA
Seorang ibu sedang menjalani tes deteksi dini demensia alzheimer di pelayanan kesehatan yang berada di acara Jalan Sehat Peduli Alzheimer, di Jakarta, Minggu (21/9/2014).
Menua adalah kepastian. Tidak hanya hitungan usia yang menua, fungsi organ tubuh pun akan menua, tak terkecuali organ otak. Namun, laju penurunan fungsi otak berbeda-beda antara satu orang dan yang lain. Semua bergantung pada investasi kesehatan yang dibangun sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan.
Salah satu kondisi penurunan fungsi kognitif otak yang bisa dialami seseorang terutama di usia lanjut adalah demensia. Kondisi ini terjadi ketika penurunan fungsi kognitif otak terjadi secara progresif sehingga mengganggu fungsi sosial pekerjaan. Demensia tidak hanya membawa beban kepada orang yang mengalaminya, tetapi juga orang di sekitarnya.
Menjalani hidup sebagai caregiver atau pendamping bagi orang dengan demensia tidaklah mudah. Berbagai keluhan yang dilontarkan orang dengan demensia cukup rumit, mulai dari penyakit fisik, kesulitan tidur, halusinasi, hingga masalah mental dan emosional. Belum lagi, biasanya orang dengan demensia merupakan lanjut usia.
Kondisi itulah yang harus dihadapi selama delapan tahun oleh Kusumadewi Suharya. Ibunya terdiagnosis demensia sejak 2009. ”Masa-masa itu (saat menjadi pendamping bagi orang dengan demensia) bisa dibilang sebagai sebuah episode kelam yang sungguh tidak mudah bagi saya dan keluarga. Meski begitu, setelah dijalani, kehidupan yang tetap berkualitas dalam mendampingi ODD (orang dengan demensia) harus diciptakan dengan baik,” kata pendiri Alzheimer Indonesia (Alzi) yang biasa disapa DY Suharya ini.
Ia mengakui, berkomunikasi dengan orang demensia butuh pemahaman khusus. Jika dijalankan tanpa pengertian dan kesadaran yang baik justru semakin menjadi beban. Atas dasar itulah, DY pun mendirikan Alzi sebagai wadah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat, khususnya bagi caregiver orang dengan demensia.
Seharusnya demensia (pikun) baru muncul pada usia 90 tahun. Namun, penyakit tersebut bisa timbul lebih dini jika lansia tidak aktif mengisi hidupnya (foto diperagakan oleh model).
Menurut dia, berkomunikasi dengan ODD lebih efektif dengan menyetujui dan mengiyakan pernyataan yang disampaikan dibandingkan dengan membantahnya. Jika ODD mulai emosional sebaiknya pendamping mengalihkan perhatian daripada memberikan alasan yang mungkin mudah dilupakan. ”Selain itu, pastikan pendamping tidak menggurui dan lebih baik ulang kembali apa yang pernah dikatakan. Usahakan menghindari kalimat ’sudah saya beri tahu, kan’,” ucapnya.
Dokter spesialis penyakit saraf dari Rumah Sakit Atma Jaya Jakarta, Yuda Turana, menyampaikan, pengendalian demensia yang terbaik adalah pada aspek pencegahan. Selain itu, pemahaman mengenai gejala demensia juga harus ditingkatkan. Semakin cepat gejala terdeteksi, pengobatan bisa semakin mudah dan bisa menyelamatkan kualitas hidup seseorang.
”Pemahaman yang harus ditanamkan adalah jangan menganggap lupa atau pikun pada warga lansia itu wajar. Pikun adalah gejala awal yang paling umum dialami oleh orang dengan demensia,” ucapnya.
Selain gangguan pada daya ingat, gejala umum lainnya adalah sulit fokus dalam beraktivitas, disorientasi pada lokasi dan hari penting, gangguan dalam berkomunikasi, serta perubahan perilaku dan kepribadian seperti mudah curiga dan depresi.
Biasanya, gejala pada orang dengan demensia ditandai juga dengan kebiasaan menaruh barang tidak pada tempatnya, misalnya menaruh gunting kuku di dalam kulkas. Apabila gejala-gejala tersebut sudah tampak dari orang terdekat, sebaiknya segera bawa ke tenaga kesehatan ahli.
Untuk mendiagnosis demensia, seseorang terlebih dahulu akan diuji secara psikologis dengan tes pertanyaan. Setelah itu, pemetaan otak akan dilakukan melalui pemindaian dengan magnetic resonance imaging (MRI). Pemindaian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan pada kerusakan otak atau gangguan yang terjadi.
Yuda menjelaskan, ada tiga jenis demensia yang cukup banyak ditemui di Indonesia, yakni demensia vaskular, demensia lewy body, dan demensia alzheimer. Demensia vaskular banyak dialami oleh pasien dengan gangguan vaskular (pembuluh darah), seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, dan jantung. Demensia jenis ini bisa diobati agar tidak semakin parah jika fungsi pembuluh darah belum mati.
Demensia lewy body adalah jenis demensia progresif yang mengganggu cara berpikir, daya ingat, dan gerakan tubuh seseorang. Orang dengan demensia lewy body sering mengalami halusinasi visual dan sulit fokus. Terkadang, gejala fisik yang dialami seperti otot kaku, gerak tubuh melambat, dan tremor.
Sementara itu, demensia alzheimer merupakan jenis demensia yang banyak dialami. Gejalanya, seseorang akan mengalami pikun berat, perilaku berubah, dan kehilangan kontrol, seperti buang air di celana. Seseorang yang telah terdiagnosis demensia akan mendapatkan obat-obatan simtomatis atau obat untuk mengatasi gejala yang berfungsi untuk memperlambat laju degenerasi otak.
Yuda menuturkan, kemajuan teknologi dalam pelayanan kesehatan mampu meningkatkan usia harapan hidup seseorang, termasuk orang dengan demensia. Namun, tantangan terbesarnya justru pada kualitas dan produktivitas hidup yang dijalani.
”Pada orang dengan demensia, harapan hidupnya bisa 8-10 tahun, bahkan lebih. Kondisi ini memang baik, tetapi ketika seseorang sudah terdiagnosis demensia ada double burden (beban ganda), yaitu beban bagi orang dengan demensia itu sendiri dan pendamping atau keluarganya. Jadi, langkah terbaik adalah pencegahan dengan gaya hidup sehat serta deteksi demensia sejak dini. Ingat, pikun yang dialami orang lanjut usia itu tidak wajar,” tuturnya.
Sumber :
https://bebas.kompas.id/baca/bebas-akses/2019/08/21/memori-masa-tuademensia-ingatan-berlalu-dengan-cepat/?utm_source=bebas_kompas_id&utm_medium=social&utm_campaign=socmed_share&fbclid=IwAR2DHYzqjmPnGvFxl6aEwpAaOAdb-6fm58YIqlbjN3lcLu1YmPJ09GyvmgI
Friday, August 9, 2019
Latihan Asah Otak Agar Tak Pikun
4 Latihan Asah Otak Agar Tak Pikun Saat Tua Nanti
Saat sedang membicarakan buku yang baru saja selesai Anda baca, tiba-tiba Anda tidak bisa mengingat judulnya. Atau mungkin, memasuki satu ruangan, tapi Anda tidak ingat untuk apa Anda ke sana.
Familiar dengan skenario di atas?
Pikun dan lupa memang menyebalkan, namun umumnya tidak menjadi prioritas yang harus dikhawatirkan. Otak kita mampu menghasilkan sel-sel baru pada usia berapapun. Tapi, sama halnya dengan kekuatan otot, ingatan yang kuat bergantung pada kesehatan dan vitalitas otak Anda. Pikun dan lupa kebanyakan disebabkan oleh pola makan yang buruk dan kurangnya latihan otak.
Asah otak Anda dengan sistem memori. Sistem memori melibatkan penggunaan visualisasi dan kata kunci, sebuah teknik mental yang Anda gunakan untuk membuat petunjuk visual demi mengingat.
Visualisasi mental yang Anda buat bertindak sebagai lambang yang mewakili fakta dalam ingatan Anda. Alasannya, mata bisa memproyeksikan suatu informasi menjadi sebuah gambar, lebih baik daripada informasi abstrak yang hanya Anda baca atau dengar.
Dipadankan dengan visualisasi, teknik sistem memori dapat menajamkan ingatan terhadap nama, tanggal, informasi acak, definisi, bahkan bahasa asing.
Empat trik asah otak untuk memperkuat daya ingat
1. Kata kunci
Metode kata kunci adalah teknik yang sangat ampuh untuk mengingat definisi dan kosa kata asing. Asosiasikan bunyi pelafalan suatu kata dengan visualisasi lucu atau aneh.
Misalnya, untuk mengingat kata “wiener” (sosis dalam bahasa Jerman), hubungkan dengan kata “winner” (pemenang dalam bahasa Inggris) dan imajinasikan visualisasi mental dari sebuah sosis sapi yang berdiri di atas podium setelah menang balap mobil.
Ketika sesuatu yang aneh, unik, atau luar biasa terjadi, Anda akan cenderung untuk lebih cepat mengingatnya. Itulah alasan mengapa mengimajinasikan sesuatu yang lucu, bahkan hampir tidak mungkin, merupakan kunci utama kesuksesan metode ini.
2. Peg
Anda tentu tidak akan lupa bagaimana menghitung 123 atau melafalkan abjad dari A-Z. Yang menjadi masalah adalah mengaitkan informasi yang ingin Anda ingat dengan sebuah angka atau huruf abstrak (yang sulit untuk divisualisasikan). Sistem peg solusinya.
Sistem peg adalah sebuah teknik patokan untuk Anda mengingat apa yang seharusnya Anda ingat, dengan membuat angka atau huruf abstrak tersebut menjadi nyata.
Misalnya, dengan teknik rima:
1 = Satu = Batu
2 = Dua = Gua
3 = Tiga = Iga, dan seterusnya.
3. Link
Jika Anda sudah menguasai dua metode “visualisasi + kata ganti” di atas, kini tingkatkan kemampuan mengingat Anda dengan metode Link.
Metode link paling baik digunakan untuk mengingat bahan bacaan, termasuk daftar, artikel, puisi, lirik, dan cerita.
Untuk membuat kaitan pertama, asosiasikan dua fakta pertama dengan satu sama lain menggunakan visualisasi mental. Untuk kaitan kedua, gunakan visualisasi mental sebelumnya dan tambahkan fakta ketiga. Begitu seterusnya.
Misalnya kita perlu menghafal tabel unsur kimia, buatlah singkatan-singkatan aneh seperti:
H = Haji
Li = Lina
Na = Naik
K = Kereta
Rb = Ribut
Cs = Calon Suami
Fr = Frustasi
Kemudian, gabungkan fakta-fakta tersebut secara berurutan dan buatlah cerita yang berkaitan. Jadinya: Haji Lina Naik Kereta Ribut, Calon Suaminya Frustasi.
4. Loci
Loci berasal dari bahasa latin yang berarti lokasi atau tempat. Metode loci memanfaatkan kemampuan otak, khususnya di bagian hippocampus, untuk menguatkan ingatan dengan konteks spasial. Metode loci menggabungkan sistem peg dengan visualisasi mental.
Misal Anda akan menghapal Pancasila. Anda tidak hanya diharuskan untuk menghapal semua poinnya, namun juga secara berurutan.
Beberapa orang mengaku tidak bisa membayangkan gambar dalam pikirannya. Tapi, Anda bisa membayangkan letak TV, meja, dan sofa di ruang keluarga Anda, kan?
Visualisasikan rute perjalanan yang familiar dengan Anda, dari kamar tidur ke ruang keluarga tersebut, misalnya. Fokuskan diri Anda untuk benar-benar memahami peta mental tersebut, bayangkan Anda sedang berjalan menyusurinya.
Menggunakan visualisasi mental tersebut, Anda bisa mematok salah satu fitur yang menonjol dari setiap ruangan tersebut dengan satu poin Pancasila. Tempat tidur sebagai sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa”, sofa ruang TV sebagai sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, dan seterusnya.
Yang penting adalah untuk memastikan setiap fitur penanda tersebut berada dalam urutan yang tepat yang biasa Anda lihat atau lewati setiap harinya. Rute tersebut adalah langkah yang akan memungkinkan Anda untuk mengingat urutan yang tepat dari daftar yang harus Anda ingat. Bahkan, jika Anda bisa memvisualisasikan jalan pulangnya, Anda pun akan bisa mengingat Pancasila dalam urutan terbalik!
Dua hal yang membantu mempertajam ingatan
Baik jika Anda seorang siswa yang sedang giat belajar menghadapi ujian akhir, atau Anda seseorang yang dituntut selalu mengeluarkan ide-ide kreatif di kantor, atau hanya ingin menjaga fungsi kognitif agar tetap tajam terpercaya, banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk mengasah performa ingatan dan mental Anda. Selalu ingat dua hal ini untuk melatih ingatan Anda semakin tajam:
Fokus.
Anda tidak akan bisa mengingat sesuatu dengan baik jika Anda tidak pernah mempelajarinya, dan Anda tidak akan bisa mempelajari sesuatu dengan baik jika Anda tidak fokus. Hanya 8 detik waktu yang diperlukan untuk memproses suatu informasi baru dan menancapkannya dalam memori Anda, jika Anda mampu untuk berkonsentrasi penuh. Tips: cari tempat sepi dan ucapkan kalimat yang perlu Anda hapalkan dalam ritme yang mudah diingat.
Tulis.
Akan lebih mudah untuk Anda mengingat sesuatu dalam jangka panjang jika Anda menulisnya. Menulis informasi baru dapat meningkatkan daya ingat dibanding dengan mendengarkan saja tanpa lakukan apapun. Pastikan Anda menulis janji temu/nama dan nomor telepon/daftar belanjaan dalam jurnal atau catatan kecil dan baca informasi tersebut keras-keras, dua kali.
Sumber :
https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/tips-trik-asah-otak-agar-tidak-cepat-pikun/
Saat sedang membicarakan buku yang baru saja selesai Anda baca, tiba-tiba Anda tidak bisa mengingat judulnya. Atau mungkin, memasuki satu ruangan, tapi Anda tidak ingat untuk apa Anda ke sana.
Familiar dengan skenario di atas?
Pikun dan lupa memang menyebalkan, namun umumnya tidak menjadi prioritas yang harus dikhawatirkan. Otak kita mampu menghasilkan sel-sel baru pada usia berapapun. Tapi, sama halnya dengan kekuatan otot, ingatan yang kuat bergantung pada kesehatan dan vitalitas otak Anda. Pikun dan lupa kebanyakan disebabkan oleh pola makan yang buruk dan kurangnya latihan otak.
Asah otak Anda dengan sistem memori. Sistem memori melibatkan penggunaan visualisasi dan kata kunci, sebuah teknik mental yang Anda gunakan untuk membuat petunjuk visual demi mengingat.
Visualisasi mental yang Anda buat bertindak sebagai lambang yang mewakili fakta dalam ingatan Anda. Alasannya, mata bisa memproyeksikan suatu informasi menjadi sebuah gambar, lebih baik daripada informasi abstrak yang hanya Anda baca atau dengar.
Dipadankan dengan visualisasi, teknik sistem memori dapat menajamkan ingatan terhadap nama, tanggal, informasi acak, definisi, bahkan bahasa asing.
Empat trik asah otak untuk memperkuat daya ingat
1. Kata kunci
Metode kata kunci adalah teknik yang sangat ampuh untuk mengingat definisi dan kosa kata asing. Asosiasikan bunyi pelafalan suatu kata dengan visualisasi lucu atau aneh.
Misalnya, untuk mengingat kata “wiener” (sosis dalam bahasa Jerman), hubungkan dengan kata “winner” (pemenang dalam bahasa Inggris) dan imajinasikan visualisasi mental dari sebuah sosis sapi yang berdiri di atas podium setelah menang balap mobil.
Ketika sesuatu yang aneh, unik, atau luar biasa terjadi, Anda akan cenderung untuk lebih cepat mengingatnya. Itulah alasan mengapa mengimajinasikan sesuatu yang lucu, bahkan hampir tidak mungkin, merupakan kunci utama kesuksesan metode ini.
2. Peg
Anda tentu tidak akan lupa bagaimana menghitung 123 atau melafalkan abjad dari A-Z. Yang menjadi masalah adalah mengaitkan informasi yang ingin Anda ingat dengan sebuah angka atau huruf abstrak (yang sulit untuk divisualisasikan). Sistem peg solusinya.
Sistem peg adalah sebuah teknik patokan untuk Anda mengingat apa yang seharusnya Anda ingat, dengan membuat angka atau huruf abstrak tersebut menjadi nyata.
Misalnya, dengan teknik rima:
1 = Satu = Batu
2 = Dua = Gua
3 = Tiga = Iga, dan seterusnya.
3. Link
Jika Anda sudah menguasai dua metode “visualisasi + kata ganti” di atas, kini tingkatkan kemampuan mengingat Anda dengan metode Link.
Metode link paling baik digunakan untuk mengingat bahan bacaan, termasuk daftar, artikel, puisi, lirik, dan cerita.
Untuk membuat kaitan pertama, asosiasikan dua fakta pertama dengan satu sama lain menggunakan visualisasi mental. Untuk kaitan kedua, gunakan visualisasi mental sebelumnya dan tambahkan fakta ketiga. Begitu seterusnya.
Misalnya kita perlu menghafal tabel unsur kimia, buatlah singkatan-singkatan aneh seperti:
H = Haji
Li = Lina
Na = Naik
K = Kereta
Rb = Ribut
Cs = Calon Suami
Fr = Frustasi
Kemudian, gabungkan fakta-fakta tersebut secara berurutan dan buatlah cerita yang berkaitan. Jadinya: Haji Lina Naik Kereta Ribut, Calon Suaminya Frustasi.
4. Loci
Loci berasal dari bahasa latin yang berarti lokasi atau tempat. Metode loci memanfaatkan kemampuan otak, khususnya di bagian hippocampus, untuk menguatkan ingatan dengan konteks spasial. Metode loci menggabungkan sistem peg dengan visualisasi mental.
Misal Anda akan menghapal Pancasila. Anda tidak hanya diharuskan untuk menghapal semua poinnya, namun juga secara berurutan.
Beberapa orang mengaku tidak bisa membayangkan gambar dalam pikirannya. Tapi, Anda bisa membayangkan letak TV, meja, dan sofa di ruang keluarga Anda, kan?
Visualisasikan rute perjalanan yang familiar dengan Anda, dari kamar tidur ke ruang keluarga tersebut, misalnya. Fokuskan diri Anda untuk benar-benar memahami peta mental tersebut, bayangkan Anda sedang berjalan menyusurinya.
Menggunakan visualisasi mental tersebut, Anda bisa mematok salah satu fitur yang menonjol dari setiap ruangan tersebut dengan satu poin Pancasila. Tempat tidur sebagai sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa”, sofa ruang TV sebagai sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, dan seterusnya.
Yang penting adalah untuk memastikan setiap fitur penanda tersebut berada dalam urutan yang tepat yang biasa Anda lihat atau lewati setiap harinya. Rute tersebut adalah langkah yang akan memungkinkan Anda untuk mengingat urutan yang tepat dari daftar yang harus Anda ingat. Bahkan, jika Anda bisa memvisualisasikan jalan pulangnya, Anda pun akan bisa mengingat Pancasila dalam urutan terbalik!
Dua hal yang membantu mempertajam ingatan
Baik jika Anda seorang siswa yang sedang giat belajar menghadapi ujian akhir, atau Anda seseorang yang dituntut selalu mengeluarkan ide-ide kreatif di kantor, atau hanya ingin menjaga fungsi kognitif agar tetap tajam terpercaya, banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk mengasah performa ingatan dan mental Anda. Selalu ingat dua hal ini untuk melatih ingatan Anda semakin tajam:
Fokus.
Anda tidak akan bisa mengingat sesuatu dengan baik jika Anda tidak pernah mempelajarinya, dan Anda tidak akan bisa mempelajari sesuatu dengan baik jika Anda tidak fokus. Hanya 8 detik waktu yang diperlukan untuk memproses suatu informasi baru dan menancapkannya dalam memori Anda, jika Anda mampu untuk berkonsentrasi penuh. Tips: cari tempat sepi dan ucapkan kalimat yang perlu Anda hapalkan dalam ritme yang mudah diingat.
Tulis.
Akan lebih mudah untuk Anda mengingat sesuatu dalam jangka panjang jika Anda menulisnya. Menulis informasi baru dapat meningkatkan daya ingat dibanding dengan mendengarkan saja tanpa lakukan apapun. Pastikan Anda menulis janji temu/nama dan nomor telepon/daftar belanjaan dalam jurnal atau catatan kecil dan baca informasi tersebut keras-keras, dua kali.
Sumber :
https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/tips-trik-asah-otak-agar-tidak-cepat-pikun/
Sunday, September 16, 2018
Awas! Sering Baper dan Galau Bisa Picu Risiko Alzheimer
Sebagian besar dari kasus penyakit Alzheimer disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat seperti kurang berolahraga dan kurang mengonsumsi makanan seimbang gizi serta tidak produktif dalam beraktivitas. Selain itu, Alzheimer's Indonesia juga mengungkapkan bahwa pikiran negatif dan stres juga dapat memicu risiko Alzheimer di masa mendatang.
"Penyakit demensia (Alzheimer) tidak datang tiba-tiba. Banyak galau, stres, bisa memicu risiko," terang pendiri Alzheimer Indonesia sekaligus Deputy Regional Director Asia Pacific Regional Office Alzheimer's Disease International, DY Suharya, saat ditemui bersama Insan Medika di Grand Sahid Jaya Hotel, Sudirman.
Suharya menilai, kekuatan jiwa pada individu menjadi salah satu faktor yang berperan dalam menentukan risiko dari Alzheimer. Suharya mengatakan, bukan berarti tiap individu tidak boleh merasakan kegalauan atau baper alias terbawa perasaan. Suharya menyarankan agar tiap individu bisa memberikan tenggang waktu terhadap kegalauan yang dirasakan.
Karena itu, lanjut Suharya, demensia Alzheimer lebih banyak menyerang wanita daripada pria. Suharya melihat kecenderungan tersebut disebabkan oleh karakter wanita yang cenderung lebih banyak memendam perasaan dibandingkan pria yang cenderung lebih lugas.
"Karakter yang galau, baper, besar risikonya. Kalau mau galau kasih deadline," kata Suharya.
Pikiran negatif seperti galau dan stres yang dibiarkan dalam waktu lama akan membuat risiko Alzheimer semakin besar. Terlebih jika pikiran-pikiran negatif ini juga ditunjang oleh perilaku hidup yang tidak sehat seperti merokok dan minum alkohol, kurang olahraga, tidak produktif dalam beraktivitas, senang mengonsumsi makanan cepat saji dan kurang asupan makanan seimbang gizi.
"10, 20, 30 tahun lagi bisa saja kena (demensia Alzheimer)," ujar wanita yang akrab disapa DY ini.
Sumber :
https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/16/09/28/oe714u328-awas-sering-baper-dan-galau-bisa-picu-risiko-alzheimer
Wednesday, August 15, 2018
Sundowner’s Syndrome
Bagi orang yang berusia lanjut, khususnya yang mengidap penyakit Alzheimer atau demensia (penyakit pikun), terjadi fenomena peningkatan gejala kejiwaan seperti rasa cemas, marah, perilaku agresif dan hilang memori pada saat menjelang matahari terbenam, yang dikenal dengan sebutan sundowner’s syndrome.
Menjelang malam, penderita akan mengalami kebingungan, disorientasi, hilang ingatan, gangguan konsentrasi bahkan marah-marah hingga dapat melempar barang, yang semakin parah jika dibandingkan dengan saat pagi atau siang hari.
Gejala dari sindrom ini mendadak meningkat menjelang sore, matahari terbenam hingga malam hari.
Studi menunjukkan bahwa sindrom ini paling banyak terjadi pada orang lanjut usia yang menderita demensia (penyakit pikun) yang dirawat di rumah sakit.
Namun, dapat terjadi juga pada lanjut usia yang memiliki gangguan penglihatan, misalnya akibat degenerasi makula.
Gejala lain dari sindrom ini adalah perubahan mood, sikap ingin dilayani yang berlebihan, rasa curiga terhadap sekitar dan halusinasi (seakan melihat atau mendengar sesuatu) yang terjadi menjelang matahari terbenam.
Penyebab sindrom ini belum diketahui secara pasti.
Sumber :
https://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/lansia-kerap-marah-marah-jelang-sore-sundowners-syndrome
Menjelang malam, penderita akan mengalami kebingungan, disorientasi, hilang ingatan, gangguan konsentrasi bahkan marah-marah hingga dapat melempar barang, yang semakin parah jika dibandingkan dengan saat pagi atau siang hari.
Gejala dari sindrom ini mendadak meningkat menjelang sore, matahari terbenam hingga malam hari.
Studi menunjukkan bahwa sindrom ini paling banyak terjadi pada orang lanjut usia yang menderita demensia (penyakit pikun) yang dirawat di rumah sakit.
Namun, dapat terjadi juga pada lanjut usia yang memiliki gangguan penglihatan, misalnya akibat degenerasi makula.
Gejala lain dari sindrom ini adalah perubahan mood, sikap ingin dilayani yang berlebihan, rasa curiga terhadap sekitar dan halusinasi (seakan melihat atau mendengar sesuatu) yang terjadi menjelang matahari terbenam.
Penyebab sindrom ini belum diketahui secara pasti.
Sumber :
https://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/lansia-kerap-marah-marah-jelang-sore-sundowners-syndrome
Labels:
Alzheimer,
Demensia,
Pikun,
Sundowner’s Syndrome
Sunday, December 10, 2017
Demensia Si Pencuri Memori Masa Tua
Seorang lanjut usia (lansia) umumnya kerap mengalami sejumlah gangguan kesehatan, atau gangguan yang berkaitan dengan fungsi organ tubuh. Seperti gangguan gejala demensia atau lebih dikenal dengan pikun.
Demensia bukan penyakit. Melainkan, gejala yang disebabkan penyakit atau kelainan pada otak. Banyak orang menganggap, demensia sebagai hal yang wajar terjadi pada seorang lansia.
Demensia atau pikun sering kali dikategorikan sebagai masalah kecil. Banyak orang menganggap pikun wajar terjadi pada orang lansia. Padahal jika tidak ditelusuri penyebabnya, pikun bisa berakibat fatal.
Penyebab paling umum demensia adalah penyakit Alzheimer. Penyakit ini disebabkan bagian otak yang tak berfungsi. Namun hingga kini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan Alzheimer secara total.
Kementerian Kesehatan pada 2015 mencatat, ada 1,2 juta jiwa yang menderita Alzheimer di Indonesia. Ini membuat, demensia perlu dideteksi dan diwaspadai sejak dini. Pengobatan dan penanggulangan harus sesuai dengan penyebab demensia tersebut.
Sumber :
https://www.liputan6.com/news/read/2686691/demensia-si-pencuri-memori-masa-tua
Penderita Demensia Diproyeksikan Berlipat Tiga dalam 30 Tahun
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan saat penduduk global bertambah usia, jumlah orang yang hidup dengan demensia diperkirakan berlipat tiga sampai 2050.
Demensia adalah istilah umum untuk beberapa penyakit yang kebanyakan progresif, mempengaruhi ingatan, kemampuan kognitif lain dan perilaku serta sangat mempengaruhi kemampuan seseorang melakukan aktivitas sehari-hari.
Di antara penyakit tersebut, Alzheimer`s adalah jenis demensia yang paling umum dan mencakup 60 sampai 70 persen kasus. Jenis lain yang umum ialah demensia vaskular dan bentuk campuran.
Badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan seluruh penduduk yang terdampak demensia dapat berlipat tiga dari 50 juta jadi 152 juta sampai 2050.
Biaya global tahunan saat ini untuk menangani demensia diperkirakan sudah mencapai 818 miliar dolar AS, setara dengan lebih dari satu persen produk domestik bruto global. Biayanya diperkirkaan bertambah menjadi dua kali lipat lebih atau sampai dua triliun dolar AS sampai 2030, sehingga akan sangat merusak pembangunan sosial dan ekonomi dan sangat membebani layanan sosial serta kesehatan, termasuk sistem perawatan jangka-panjang.
"Hampir sepuluh juta orang terserang demensia setiap tahun, enam juta di antara mereka di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus Direktur Jenderal WHO sebagaimana dikutip Antara dari Xinhua.
"Penderitaan yang diakibatkan sangat besar. Ini adalah seruan peringatan: kita harus memberi perhatian lebih besar pada tantangan yang berkembang ini dan memastikan semua orang yang hidup dengan demensia, di mana mereka tinggal, mendapatkan perawatan yang mereka perlukan," ia menambahkan.
Guna menghadapi tantangan itu, WHO pada Kamis (7/12/2017) meluncurkan Global Dementia Observatory, platform berbasis web untuk melacak kemajuan dalam penyediaan layanan bagi orang dengan demensia dan orang-orang yang merawat mereka.
Selain informasi mengenai sistem pengawasan dan data beban penyakit, sarana itu juga akan memantau keberadaan rencana dan kebijakan nasional, langkah pengurangan risiko dan prasarana penyediaan perawatan dan pengobatan.
WHO juga mendesak peningkatan penelitian mengenai demensia, bukan hanya untuk menemukan obatnya, tapi juga dalam bidang pencegahan, pengurangan risiko, diagnosis, perawatan dan pengobatan.
Sumber :
http://kelanakota.suarasurabaya.net/news/2017/196724-Penderita-Demensia-Diproyeksikan-Berlipat-Tiga-dalam-30-Tahun
Demensia adalah istilah umum untuk beberapa penyakit yang kebanyakan progresif, mempengaruhi ingatan, kemampuan kognitif lain dan perilaku serta sangat mempengaruhi kemampuan seseorang melakukan aktivitas sehari-hari.
Di antara penyakit tersebut, Alzheimer`s adalah jenis demensia yang paling umum dan mencakup 60 sampai 70 persen kasus. Jenis lain yang umum ialah demensia vaskular dan bentuk campuran.
Badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan seluruh penduduk yang terdampak demensia dapat berlipat tiga dari 50 juta jadi 152 juta sampai 2050.
Biaya global tahunan saat ini untuk menangani demensia diperkirakan sudah mencapai 818 miliar dolar AS, setara dengan lebih dari satu persen produk domestik bruto global. Biayanya diperkirkaan bertambah menjadi dua kali lipat lebih atau sampai dua triliun dolar AS sampai 2030, sehingga akan sangat merusak pembangunan sosial dan ekonomi dan sangat membebani layanan sosial serta kesehatan, termasuk sistem perawatan jangka-panjang.
"Hampir sepuluh juta orang terserang demensia setiap tahun, enam juta di antara mereka di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus Direktur Jenderal WHO sebagaimana dikutip Antara dari Xinhua.
"Penderitaan yang diakibatkan sangat besar. Ini adalah seruan peringatan: kita harus memberi perhatian lebih besar pada tantangan yang berkembang ini dan memastikan semua orang yang hidup dengan demensia, di mana mereka tinggal, mendapatkan perawatan yang mereka perlukan," ia menambahkan.
Guna menghadapi tantangan itu, WHO pada Kamis (7/12/2017) meluncurkan Global Dementia Observatory, platform berbasis web untuk melacak kemajuan dalam penyediaan layanan bagi orang dengan demensia dan orang-orang yang merawat mereka.
Selain informasi mengenai sistem pengawasan dan data beban penyakit, sarana itu juga akan memantau keberadaan rencana dan kebijakan nasional, langkah pengurangan risiko dan prasarana penyediaan perawatan dan pengobatan.
WHO juga mendesak peningkatan penelitian mengenai demensia, bukan hanya untuk menemukan obatnya, tapi juga dalam bidang pencegahan, pengurangan risiko, diagnosis, perawatan dan pengobatan.
Sumber :
http://kelanakota.suarasurabaya.net/news/2017/196724-Penderita-Demensia-Diproyeksikan-Berlipat-Tiga-dalam-30-Tahun
Subscribe to:
Posts (Atom)





