Pages

Saturday, September 23, 2023

Perbedaan Alzheimer dan Pikun

2 Perbedaan Alzheimer dan Pikun yang Perlu Diketahui 

20/01/2023

Sebagian di antara Anda barangkali ada yang pernah bertanya, apakah alzheimer dan pikun itu sama? Jawabannya tidak, meskipun kedua masalah ingatan ini sama-sama berisiko terjadi seiring bertambahnya usia. 

Lalu, apakah perbedaan alzheimer dan pikun? Simak penjelasan berikut ini... 

Dilansir dari Mayo Clinic, penyakit Alzheimer adalah gangguan neurologis progresif yang akan membuat otak menyusut dan mematikan sel otak. Penyakit Alzheimer akan menyebabkan demensia yang membuat seseorang mengalami penurunan kemampuan untuk berpikir, berperilaku, dan bersosialisasi dalam masyarakat. 

Sedangkan menurut Healthline, pikun adalah penurunan kemampuan kognitif yang terjadi secara alami karena bertambahnya usia. Ada dua perbedaan mendasar antara Alzheimer dan pikun, yaitu dari sisi gejala serta rentang usia penderitanya. 


Gejala Alzheimer dan pikun 

Dilansir dari Healthline, ada beberapa gejala pikun yang akan dialami, seperti: 

  • Memerlukan waktu yang lebih lama untuk mempelajari hal baru 
  • Kerap lupa dengan beberapa hal 
  • Kesulitan untuk melakukan lebih dari satu kegiatan di waktu yang sama 
  • Memerlukan waktu yang lebih banyak untuk memproses informasi atau memecahkan masalah 
  • Kerap lupa dengan kata atau istilah tertentu dalam konteks percakapan 

Kondisi ini dijelaskan sebagai hal yang normal dialami dan sangat berbeda dengan penderita Alzheimer. Lalu, apakah Alzheimer dan pikun itu ada kesamaan? Meskipun keduanya hampir mirip, seseorang yang mengalami Alzheimer mengalami gejala yang lebih parah sehingga berakibat negatif pada kehidupan sehari-hari. 

Dilansir dari NHS, ada beberapa gejala Alzheimer yang akan muncul, seperti: 

  • Sering merasa bingung, hilang arah, dan tersesat di tempat yang familiar 
  • Merasa kesulitan dalam merencanakan atau membuat keputusan 
  • Mengalami penurunan kemampuan untuk bicara dan menggunakan bahasa 
  • Sering kesulitan untuk melakukan kegiatan sehari-hari tanpa bantuan 
  • Mengalami perubahan sifat, seperti menjadi lebih agresif, sering menuntut, dan cepat merasa curiga dengan orang lain 
  • Mengalami halusinasi dan delusi 
  • Memiliki suasana hati yang murung atau sering merasa cemas 

Alzheimer adalah penyakit progresif sehingga gejalanya bertahap dan akan semakin parah karena penyakit ini memengaruhi beberapa fungsi otak. 

Rentang usia penderita Alzheimer dan pikun Dilansir dari NHS, Alzheimer biasanya dialami oleh orang-orang dengan usia lebih dari 65 tahun. Namun, Alzheimer juga bisa menyerang mereka yang memiliki usia di bawah 65 tahun dan kondisi ini disebut dengan young-onset Alzheimer’s disease atau Alzheimer pada usia muda. 

Menurut Mayo Clinic, orang-orang yang sudah memasuki usia senja atau di atas 50 tahun akan cenderung mengalami kepikunan. Meskipun keduanya sering dianggap sama, ada beberapa perbedaan Alzheimer dan pikun yang penting untuk diketahui. 

Segera periksa ke dokter ketika Anda atau orang terdekat Anda mengalami gejala di atas untuk mengetahui apakah yang dialami merupakan Alzheimer atau pikun sehingga bisa mendapatkan perawatan yang tepat.


Sumber :

https://health.kompas.com/read/23A20150000168/2-perbedaan-alzheimer-dan-pikun-yang-perlu-diketahui?page=all.

Saturday, June 3, 2023

Apakah Lupa itu Pikun?

Apakah Lupa itu Pikun?

Stevani Imma S.S.Kep.,Ns - RS Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang

Lupa (forgetting) ialah hilangnya kemampuan untuk mengungkapkan kembali informasi yang telah kita terima atau yang sudah kita pelajari. Secara sederhana, Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami.

Faktanya, adalah hal yang wajar jika anda lupa akan nama atau hal-hal yang baru anda pelajari. Hal tersebut terjadi karena informasi yang baru Anda pelajari belum sampai ke ingatan jangka panjang, atau Anda memang sedang tidak fokus dalam mengingat hal yang baru Anda pelajari.

Siapa pun pasti pernah mengalami lupa, hal ini kerap kita alami ketika kelelahan, banyak pekerjaan, atau terlalu asyik melakukan hal lain. anak muda, lansia dan orang sehat pun dapat sering lupa, mulai dari hal-hal kecil hingga besar, seperti lupa menaruh barang atau bahkan tenggat waktu pekerjaan.

Sedangkan pikun atau demensia secara harafiah berarti de (kehilangan), mensia (jiwa), tetapi lebih umum diartikan sebagai penurunan intelektual karena menurunnya fungsi bagian luar jaringan otak (cortex). Di samping itu, ada pula yang menyebutkan bahwa pikun merupakan suatu penurunan kualitas intelektual yang disertai gangguan pengamatan sampai menurunnya daya ingat yang sangat mengganggu kemampuan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan dalam berkomunikasi dan berbahasa, serta dalam pengendalian emosi (Yatim. 2009, hlm 9-10).

Gejala Demensia menurut American Academy Family Physicians (2001) dalam Pangkalan Ide (2008, hlm 17), yaitu:

  1. Hilang ingatan baru-baru ini, tidak hanya sekedar lupa.
  2. Lupa kata-kata atau tata bahasa yang tepat.
  3. Perasaan berubah-ubah (moody), kepribadian mendadak berubah atau mendadak tidak berminat untuk melakukan suatu aktivitas.
  4. Tersesat atau tidak ingat jalan pulang ke rumah.
  5. Tidak ingat cara mengerjakan tugas sehari-hari.

Menurut Yatim (2003, hlm 10-16), penyebab pikun adalah sebagai berikut: tumor, trauma, infeksi kronis, penyakit syphilis, kelainan jantung dan pembuluh darah, kelainan congenital, penyakit psikiatri, kelainan faali, demensia karena kerusakan sel-sel otak (degenerative dementia), hilangnya bungkus saraf (demyelinating), kelainan metabolik, obat-obatan dan racun.

Menurut Yatim (2003, hlm 39-41), ada beberapa pencegahan dan pengobatan demensia, yaitu:

  1. Pencegahan demensia akibat matinya dibanyak daerah jaringan otak (multi infarct dementia) adalah dengan mengendalikan naiknya tekanan darah. Ini merupakan suatu tindakan yang penting karena ternyata penyebab utama demensia jenis ini adalah tekanan darah tinggi (hypertensi). Termasuk dalam hal ini mencegah kakunya dinding pembuluh darah otak seperti arterio sklerosis dan penyakit pembuluh darah yang disebut congophilic angiopathy serta penyakit-penyakit pembuluh darah dan penyakit jantung lainnya.
  2. Mengobati penyakit-penyakit yang memperberat kejadian demensia.
  3. Mengobati gejala-gejala gangguan jiwa yang mungkin menyertai demensia.
  4. Mengatasi masalah penyimpangan perilaku dengan obat-obat penenang (transquillizer dan hipnotic) serta pemberian obat- obatan anti kejang bila perlu.
  5. Pendekatan psikologi dalam mengatasi masalah perilaku.
  6. Memberikan konseling untuk membantu kelurga penderita menghadapi keseharian penderita demensia.

Sehingga pikun adalah menurunnya kemampuan berpikir secara drastis, akibat menurunnya fungsi jaringan otak. Gejala pikun biasanya meningkat seiring pertumbuhan usia. Akan tetapi perlu diketahui, pikun bukan merupakan gejala normal dari proses penuaan.

Siapa pun, terutama lansia, yang menunjukkan gejala demensia (pikun). Lupa akan hal-hal yang baru saja terjadi -dikenal sebagai penurunan ‘daya ingat segera’- jika disertai penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, dikenal dengan demensia atau pikun. Dalam taraf dini atau ringan, acap kali sulit dikenali dan dianggap sebagai gangguan memori terkait usia, maupun gangguan kognitif ringan non demensia.

Salah satu patokan yang dapat dipakai, antara lain, jika gangguan memori segera tersebut sudah mengganggu aktivitas dasar sehari-hari maka harus diwaspadai adanya demensia ringan. Perubahan yang terjadi, antara lain, percakapan berulang-ulang yang akan semakin sering dijumpai, menjawab pertanyaan yang sama berkali-kali dalam satu kesempatan, juga akan kerap ditemui. Menjaga kebersihan diri yang biasanya dilakukan secara mandiri akan mulai membutuhkan bantuan.


Sumber :

https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1512/apakah-lupa-itu-pikun

Friday, February 17, 2023

Muda tapi Pelupa

Usia Muda tapi Sering Lupa, Waspadai Penyebabnya

Mudah lupa identik dengan usai senja. Kondisi ini bisa jadi karena berkurangnya fungsi hipokampus atau bagian otak untuk mengingat. Tapi, ada kalanya seseorang menjadi mudah lupa kendati usianya masih muda. Lalu, Apa penyebab mudah lupa usia muda ini?

Mungkin Anda sering lupa meletakkan barang, lupa mengingat nama orang yang baru Anda temui, atau lupa bahwa Anda memiliki jadwal pertemuan. Lupa adalah hal alami dan wajar. Menurut penelitian, otak hanya mampu mengingat 7 informasi dalam jangka pendek kurang dari 30 detik. Tetapi, jika terlalu mudah lupa di usia 20 hingga 30-an, mungkin Anda perlu mempertimbangkan kembali kesehatan Anda secara keseluruhan.


Penyebab Sering Lupa di Usia Muda

Berikut beberapa alasan yang dapat menyebabkan mudah lupa di usia muda, dirangkum dari berbagai sumber:


1. Kurang tidur

Dikutip dari Firstpost, kurang tidur dapat dengan mudah menyebabkan perubahan suasana hati dan kecemasan. Suasana hati yang tidak baik dan cemas mempengaruhi ingatan menjadi buruk. Kurang tidur juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan diabetes, yang mana dapat memicu penyempitan pembuluh darah. Kondisi ini membatasi aliran darah otak sehingga mempengaruhi kemampuan mengingat.


2. Hipotiroidisme

Ketika kelenjar tiroid berhenti melepaskan jumlah hormon tiroid yang dibutuhkan dalam tubuh, maka terjadilah hipotiroidisme. Orang dengan hipotiroidisme yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati dapat mengalami masalah memori dan kesulitan berkonsentrasi. Alasannya, hipotiroidisme ternyata menyebabkan penurunan ukuran hipokampus. Kondisi ini dapat menjadi sebab mudah lupa di usia muda.


3. Demensia dini

Mengutip Mayo Clinic, penyebab seseorang mudah lupa adalah demensia. Kondisi ini ditandai dengan penurunan fungsi otak seperti hilangnya kemampuan mengingat dan daya pikir. Umumnya terjadi pada usia senja, namun dapat pula terjadi pada usia muda, disebut dimensia dini. Demensia biasanya dimulai secara bertahap, memburuk dari waktu ke waktu dan mengganggu kemampuan seseorang dalam pekerjaan, interaksi sosial dan hubungan.


4. Stres, cemas, dan depresi

Melansir everydayhealth.com, direktur Pusat Perawatan Memori dan Alzheimer di Johns Hopkins Medicine, Constantine Lyketsos mengatakan stres dan kecemasan yang signifikan dapat menyebabkan masalah perhatian dan memori. Klaim ini sejalan penelitian yang diterbitkan pada Mei 2022 di Frontiers in Psychiatry. Masalah ini umumnya terjadi pada orang yang mengalami tekanan atau tidak dapat tidur nyenyak.


5. Mengonsumsi obat-obatan

Menurut American Association of Retired Persons, beberapa jenis obat dapat mempengaruhi memori. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau AS memperingatkan bahwa obat penurun kolesterol, yang dikenal sebagai statin, dapat sedikit meningkatkan risiko efek samping kognitif yang dapat dibalik, termasuk kehilangan memori dan kebingungan.

Adapun jenis obat-obatan yang dapat menyebabkan mudah lupa yaitu obat anti-kecemasan antidepresan, antihistamin, obat anti kejang, obat tekanan darah, obat penghilang rasa sakit tertentu, obat penurun kolesterol, obat diabetes, obat untuk mengobati penyakit Parkinso, dan obat tidur.


6. Defisiensi nutrisi

Menurut Klinik Cleveland, defisiensi atau kekurangan nutrisi tertentu dapat menyebabkan mudah lupa di usia muda. Salah satu penyebab mudah lupa adalah kurangnya asupan vitamin B12. Vitamin ini penting untuk fungsi saraf normal. Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan kebingungan dan bahkan demensia. Berdasarkan National Institutes of Health, orang dewasa membutuhkan sekitar 2,4 mikrogram vitamin B12 per harinya. Nutrisi ini dapat diperoleh dengan mengonsumsi produk susu, daging, dan ikan.


7. Masalah pada otak

Kondisi lain yang dapat menyebabkan masalah mudah lupa di usia muda meliputi infeksi otak, cedera otak, dan tumor otak. Infeksi parah di sekitar otak, terutama jika tidak diobati, dapat menyebabkan masalah ingatan. Misalnya, beberapa orang dengan COVID-19 yang lama telah melaporkan kehilangan ingatan setelah infeksi.

Menurut Institut Nasional Gangguan Neurologis dan Stroke AS, cedera otak ringan dapat menyebabkan kebingungan dan masalah dengan memori serta konsentrasi. Selain itu, tumor otak dapat mempengaruhi kemampuan mengingat seseorang menurut National Brain Tumor Society. Selain itu, perawatan untuk tumor otak, seperti operasi otak, kemoterapi, atau terapi radiasi, juga dapat memengaruhi daya ingat pasien.


Sumber :

https://gaya.tempo.co/read/1651618/usia-muda-tapi-sering-lupa-waspadai-penyebabnya

Sunday, December 4, 2022

Olahraga untuk Lansia

Tips Olahraga untuk Lansia

Kaum lanjut usia (lansia) sudah mulai turun fungsi tubuhnya. Kemampuan geraknya pun menurun seiring bertambahnya usia. Lalu, apakah lansia ini boleh berolahraga?

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Sport Medicine, Injury & Recovery Center RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO mengatakan lansia justru sangat disarankan untuk berolahraga rutin. Tak hanya bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh, lansia yang melakukan olahraga secara rutin juga dapat merasakan manfaat lain, yakni kualitas hidup lebih baik dan hati yang lebih bahagia.

"Meski usia sudah lanjut, olahraga rutin dan aktivitas fisik ada baiknya tidak ditinggalkan," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Ahad (16/10/2022).

Kurang bergerak atau jarang berolahraga dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan pada orang yang berusia lanjut, misalnya nyeri sendi dan otot, tekanan darah tinggi, pikun atau demensia, hingga diabetes. Selama berolahraga, tubuh akan melepaskan hormon endorfin yang dapat meningkatkan mood, dan membuat tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks. Hormon ini dapat mengurangi rasa sakit dan memberikan energi positif, yang berujung pada hati lebih bahagia.

Selain membuat hati lebih bahagia, lansia yang rutin berolahraga juga dapat merasakan berbagai manfaat pada kesehatan tubuh, antara lain memperkuat otot dan sendi, melancarkan peredaran darah, serta membantu mengendalikan penyakit komorbid yang sudah diderita, seperti penyakit jantung, diabetes mellitus, hiperlipidemia dan hipertensi.

Selain itu, bisa memperlambat keparahan sindrom geriatri, menjaga kesehatan dan fungsi otak sekaligus menurunkan risiko gangguan pada otak, seperti demensia. Olahraga juga bisa mengurangi stres dan risiko gangguan mental, seperti depresi.

Tak hanya itu, olahraga juga membantu mencegah obesitas. Porsi olahraga untuk lansia, sama seperti kaum usia produktif. "Lansia disarankan untuk tetap aktif bergerak dan rutin berolahraga setidaknya 150 menit per minggu atau minimal 30 menit setiap harinya."

Namun, meskipun tetap boleh melakukan olahraga favorit semasa muda, ada beberapa rambu-rambu yang perlu diperhatikan ketika lansia mau memulai berolahraga, yakni konsultasikan kondisi kesehatan dengan dokter yang merawat lansia sebelum memutuskan untuk mulai berolahraga. Hal ini untuk memastikan kembali bagaimana porsi olahraga yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing lansia.

"Para lansia yang sudah lama tidak berolahraga sebaiknya memulai olahraga perlahan dengan latihan yang ringan dan konstan," tambahnya.

Jangan lupa selalu lakukan pemanasan sebelum berolahraga dan pendinginan setelah berolahraga. Meskipun sederhana, tetapi kedua hal ini dapat membantu menyiapkan tubuh untuk berolahraga dan beristirahat, serta mengurangi risiko terjadinya cedera ketika berolahraga. "Lakukan olahraga ketika tubuh benar-benar bugar. Tidak perlu terlalu memaksakan diri," ujar dokter Antonius.

Ia menambahkan pertambahan usia membuat tubuh tidak sebugar ketika muda, maka lekas merasa lelah adalah hal yang wajar. Lakukan olahraga secara perlahan dengan kesadaran penuh akan kemampuan diri sendiri dan berhentilah ketika sudah merasa lelah.

"Melakukan latihan keseimbangan karena latihan keseimbangan sangat berguna untuk mencegah jatuh pada lansia. Belajarlah teknik yang benar dalam melakukan olahraga agar tidak terjadi cedera olahraga."


Sumber :

https://www.republika.co.id/berita/rjv99n430/tips-olahraga-untuk-lansia

Monday, February 21, 2022

Menghindari Pikun Sejak Dini

Mulai Lupa Ini dan Itu, Berikut 5 Tips Menghindari Pikun Sejak Dini

Sabtu, 1 Mei 2021 16:31 WIB

Kondisi pikun ini biasanya terjadi pada usia lebih dari 65 tahun. Tetapi, yang masi muda saat ini pun tidak dapat kita mungkiri bisa kena penyakit ini. Karena kepikunan ini terjadi karena beberapa faktor seperti stres, kelelahan, depresi, dan yang lainnya.

Namun, kepikunan tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena ada beberapa tips untuk untuk mencegah pikun tersebut. Berikut tips cara mengatasi pikun dari berbagai sumber:


1. Tidur yang cukup

Saat tidur, memori-memori dalam otak akan diperkuat. Dan sebaliknya, kurang tidur berpotensi meningkatkan risiko pikun. Tak hanya itu, tidur juga bisa menambah fokus dan atensi Anda. Jadi, tidurlah 7-9 jam per hari agar kekuatan otak kita tetap terjaga.


2. Lakukan olahraga dengan teratur

Olahraga bukan cuma bertujuan menjaga kesehatan tubuh. Latihan fisik ini juga dapat mencegah pikun dengan meningkatkan fungsi memori. Durasi olahraga yang disarankan adalah 150 menit per minggu untuk olahraga ringan dan 75 menit per minggu untuk olahraga berat.


3. Melakukan pola makan sehat

Mencegah pikun dapat dimulai dengan konsumsi makanan yang sehat. Kurangi konsumsi gula, alkohol, dan karbohidrat yang diproses (seperti kue, roti, dan sebagainya). Pasalnya. bahan-bahan ini dapat meningkatkan risiko pikun.

Tingkatkan konsumsi ikan, daging ayam, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Mengonsumsi suplemen dan makanan yang mengandung omega-3 juga dapat meningkatkan fungsi memori kita.


4. Mengisi TTS

TTS atu teka-teki silang adalah sebuah permainan mengasah otak yang sudah ada sejak lama. Tak sedikit orang yang bahkan mengoleksi permainan ini karena konsepnya yang menyenangkan. Ingatan, pengetahuan, logita dan konsentrasi akan terpacu dan terasah dalam permainan ini, sehingga bisa menyembuhkan penyakit demensia atau pikun secara perlahan.


5. Menghafal

Latihlah daya konsentrasi dengan cara membaca dan menghafal beberapa bacaan seperti buku, koran atau majalah. Dengan cara ini maka sel-sel dalam otak akan berkembang sehingga dapat meningkatkan sistem kerja otak agar lebih baik. Dengan membaca dan menghafal, tentu bisa mengurangi risiko pikun karena kemampuan konsentrasi terus dilatih sehingga menciptakan kondisi daya ingat yang prima.


Sumber :

https://gaya.tempo.co/read/1458338/mulai-lupa-ini-dan-itu-berikut-5-tips-menghindari-pikun-sejak-dini/full&view=ok

Wednesday, January 12, 2022

Sering Disamakan, Ini Perbedaan Mendasar Lupa dan Pikun

Lupa dan pikun adalah kondisi medis yang berbeda. Pikun disebut dokter, bukan gejala normal dari proses penuaan. Pikun merupakan kondisi menurunnya kemampuan berpikir secara drastis.

Dalam keseharian, orang yang lupa akan sesuatu kerap diledek dengan sebutan pikun. Padahal, lupa dan pikun sebenarnya dua hal yang berbeda.

"Sebenarnya lupa dan pikun sesuatu yang tidak sama, sesuatu yang berbeda," jelas Dr dr Ninik Mudjihartini MS dari Departemen Biokimia dan Biologi Molekuler FKUI dalam seminar web untuk awam "Kiat Sehat Lansia Pasca Pandemi Covid-19", Sabtu (18/12).

Lupa, lanjut Dr Ninik, merupakan peristiwa di mana tidak dapat ditimbulkannya kembali informasi-informasi yang telah diterima dan disimpan. Pada lupa, hilang pula kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah dipelajari.

Dr Ninik mencontohkan, dahulu sebagai mahasiswi kedokteran dia belajar mengenai obat, mulai dari nama-nama hingga kegunaannya. Namun seiring berjalannya waktu dan Dr Ninik tak lagi melakukan praktik klinik, informasi tersebut tidak dia gunakan.

"Sehingga hal itu hilang, atau hanya tertinggal dalam jumlah sedikit. Namun kalau saya mau mengembalikan ingatan itu, saya dapat melatih untuk kembali mengingat hal-hal tersebut, informasi yang sudah saya dapat," ungkap Dr Ninik.

Ada dua teori yang dinilai menjadi penyebab terjadinya lupa. Yang pertama adalah teori atopi, di mana lupa terjadi karena informasi terlalu lama disimpan sehingga menjadi rusak atau bahkan hilang dari ingatan.

Teori yang kedua adalah teori interferensi. Mengacu pada teori ini, lupa terjadi karena informasi yang disimpan dan yang akan ditimbulkan kembali terlalu banyak sehingga menimbulkan interferensi.

Berbeda dengan lupa, pikun merupakan kondisi di mana menurunnya kemampuan berpikir secara drastis. Penurunan ini dipicu oleh penurunan fungsi jaringan otak. Pikun juga dikenal dengan istilah demensia. Gejala pikun biasanya akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

"Pikun itu bukan gejala normal dari proses penuaan. Gejala normal (proses penuaan) itu lupa. Pikun itu lebih sebagai suatu kelainan," ungkap Dr Ninik.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya pikun atau demensia. Sebagian di antaranya adalah kebiasaan merokok, konsumsi gula terlalu banyak, dan makan terlalu banyak. Kurang tidur dan kurang menstimulasi pikiran juga dapat memicu terjadinya pikun.

Demensia itu sendiri merupakan istilah payung untuk menggambarkan sekumpulan penyakit otak dan gejala-gejalanya. Gejala tersebut meliputi kehilangan ingatan, kesulitan untuk membuat keputusan, perubahan kepribadian, dan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Sekitar 60-70 persen kasus demensia adalah penyakit Alzheimer. Beberapa penyakit lain yang juga termasuk ke dalam demensia adalah demensia vaskular, demensia frontotemporal, demensia lewy body, dan bentuk demensia lain seperti penyakit Parkinson atau penyakit Huntington.

Dr Ninik mengatakan ada empat hal yang bisa dilakukan untuk mencegah pikun. Dua di antaranya adalah "memberi makan" otak dengan mengonsumsi makanan yang bergizi serta kaya omega-3 dan olahraga. Dua upaya lainnya adalah olah otak dan mengistirahatkan otak. "Datang ke dokter bila ada tanda demensia atau pikun," tukas Dr Ninik.


Sumber :

https://www.republika.co.id/berita/r4b5h9328/sering-disamakan-ini-perbedaan-mendasar-lupa-dan-pikun

Tuesday, September 14, 2021

Pikun Digital

Makin Banyak Orang Sakit "Pikun Digital"

24/06/2013, 17:17 WIB 

Istilah "digital dementia" mungkin belum akrab di telinga. Tetapi mereka yang mengalami penyakit ini terus mengalami peningkatan seiring perubahan gaya hidup akibat perkembangan teknologi. Seperti dilansir surat kabar JoongAng Daily , para ahli kesehatan di Korea Selatan melaporkan peningkatan jumlah kasus kepikunan yang disebabkan ketergantungan pada gadget dan barang elektronik. 

Penyakit yang disebut "digital dementia" atau kepikunan digital saat ini melanda kaum muda yang kecanduan berat pada gadget atau barang digital lainnya. Kecanduan membuat mereka tak mampu lagi mengingat hal-hal detil dalam kehidupan sehari-hari semisal nomor ponsel pribadi. 

Korsel merupakan salah satu negara dengan koneksi digital paling baik di dunia saat ini. Namun  negara ini juga mengalami dampak buruknya seperti munculnya masalah kecanduan internet di kalangan dewasa dan anak-anak. 

Negara Ginseng ini juga tengah menghadapi ancaman kasus demensia digital di usia muda. Digital demenita  (istilah yang dipopulerkan di Korsel) merupakan penurunan kemampuan kognitif yang sebenarnya lebih banyak muncul pada orang-orang yang mengalami cedera pada bagian kepala atau gangguan kejiwaan. 

"Penggunaan smartphones dan konsol game berlebihan bisa mengganggu keseimbangan perkembangan otak," kata Byun Gi-won, seorang dokter yang berpraktik di Balance Brain Centre Seoul. 

"Pengguna berat cenderung hanya mengembangkan bagian otak kirinya, sehingga otak kanannya tidak tersentuh atau tidak berkembang," ujarnya. Otak kanan manusia berhubungan dengan daya konsentrasi. Apabila bagian otak ini gagal berkembang, dapat mempengaruhi perhatian dan daya ingat, di mana sebanyak 15 persen kasus dapat menyebabkan terjadinya demensia di usia dini. 

Mereka yang mengalami "kecanduan" ini juga dilaporkan menderita keterbelakangan dalam perkembangan emosi.  Anak-anak berisiko lebih besar mengalaminya ketimbang orang dewasa karena otaknya masih dalam proses pertumbuhan. 

Menurut para dokter di Korsel, kondisinya saat ini lebih memburuk karena persentase anak berusia 10 -19 tahun yang menggunakan smartphone lebih dari 7 jam sehari mengalami kenaikan hingga 18,4 persen. 

Angka ini meningkat dari hanya 7 persen tahun lalu. Lebih dari 67 persen warga Korsel saat ini memiliki smartphone, atau tercatat sebagai yang tertinggi di dunia . Ironisnya, 64 persen pemilik smartphone ini adalah remaja.  

Angkanya melonjak tajam dari hanya 21,4 persen pada 2011, menurut data Kementerian Ilmu, ICT dan Perencanaan Masa Depan Korsel Dr Manfred Spitzer, salah seorang pakar ilmu saraf Jerman, yang mempublikasikan buku berjudul "Digital Dementia" pada 2012 pernah memperingatkan para orang tua dan guru akan bahaya  gadget.  

Penggunaan ponsel, laptop atau konsol game secara berlebihan di usia dini dapat mengancam perkembangan jiwa mereka di kemudian hari. Dr Spitzer mengingatkan bahwa defisit atau atau kegagalan dalam perkembangan otak bersifat permanen. Ia bahkan meminta kepada pemerintah Jerman menerapkan larangan penggunaan media digital  dalam pengajaran anak-anak di sekolah karena khawatir akan kecanduan. 


Sumber :

https://health.kompas.com/read/2013/06/24/1717056/Makin.Banyak.Orang.Sakit.Pikun.Digital..

Wednesday, September 8, 2021

Tanda-Tanda Pikun Dini

6 Tanda-Tanda Pikun Dini yang Perlu Diwaspadai, Salah Satunya Bersikap Apatis

Sabtu, 28 Agustus 2021

Pikun atau demensia merupakan istilah dari gejala yang muncul dan memengaruhi fungsi kognitif seseorang, seperti kemampuan berpikir, mengingat, dan berlogika yang baik.

Kondisi ini makin memburuk dari waktu ke waktu, sehingga penting untuk menyadari gejala pikun dini supaya bisa melakukan pencegahan yang tepat. Pikun atau demensia dini terjadi umumnya karena ada faktor psikologis dan stres.

Pada beberapa orang juga bisa disebabkan oleh gangguan autoimun yang menyerang otak. Selanjutnya akan dijelaskan tentang beberapa ciri pikun dini yang muncul tanpa disadari.

Yuk, simak ulasan lebih lanjutnya, Kids.

Orang yang mulai menunjukkan gejala pikun dini biasanya mudah melupakan banyak hal atau memori.rawpixel.com Orang yang mulai menunjukkan gejala pikun dini biasanya mudah melupakan banyak hal atau memori.


1. Mudah Lupa

Berkurangnya daya ingat juga menjadi salah satu ciri seseorang mengalami kepikunan dini.

Kondisi ini membuat kamu mudah melupakan sesuatu seperti informasi baru atau informasi penting yang tersimpan dalam otak, seperti tanggal atau suatu tempat.


2. Sering salah lokasi dan waktu

Kamu cenderung mudah lupa arah dan hari. Orang yang mengalami pikun dini biasanya sangat sering memiliki gejala ini.

Mereka sering keliru menyebut nama tempat atau bahkan peristiwa.

Kadang orang-orang ini juga mengalami kesulitan mengingat di mana dia sekarang dan bagaimana caranya bisa berada di tempat tersebut.


3. Apatis

Gejala lain dari pikun dini adalah sikap apatis.

Hal ini bisa ditandai dengan mulai hilangnya minatmu pada hobi atau aktivitas yang biasanya kamu sukai.

Kamu juga kehilangan keinginan untuk bersosialisasi dengan orang lain, tanpa sadar kamu berubah menjadi pribadi yang antisosial.


4. Enggak bisa mengambil keputusan

Orang yang mengalami pikun dini akan mengalami kesulitan ketika harus menentukan pilihan yang lebih rasional.

Bahkan ada kecenderungan untuk membeli banyak barang yang sebenarnya enggak kamu perlukan.

Untuk hal sepele sekalipun, kamu menemukan kesulitan untuk mengambil sikap, terkadang juga mulai kurang memperhatikan kebersihan dan kerapihan diri sendiri.


5. Berusaha keras untuk beradaptasi di lingkungan baru

Ketika memiliki gejala pikun dini, mulai kesulitan untuk mengenali dan mengingat nama orang atau bahkan mengikuti intruksi atau pesan yang diberikan kepadanya.

Karena cenderung kesulitan untuk memulai hal baru, ini menjelaskan kenapa kamu menyukai hal-hal yang dianggap membosankan bagi orang lain.


6. Hilang inisiatif

Kamu berubah jadi pribadi pasif yang suka melakukan hal sama untuk waktu yang lama.

Kamu merasa duduk tanpa melakukan apa-apa menjadi hal yang menyenangkan, hal ini bisa jadi tanda atau gejala bahwa kamu mulai terjangkit pikun dini.


Sumber :

https://kids.grid.id/read/472861548/6-tanda-tanda-pikun-dini-yang-perlu-diwaspadai-salah-satunya-bersikap-apatis?page=all

Thursday, January 28, 2021

Dampak Kurang Tidur Jadi Pikun

Dampak Kurang Tidur: Dari Cepat Pikun Sampai Depresi 

Kurang tidur bukan lagi fenomena baru yang dialami masyarakat modern. Bahkan mungkin Anda sendiri juga habis begadang semalam, entah karena kerja lembur atau bersenang-senang. 

Tapi awas. Akibat kurang tidur tidak hanya membuat Anda jadi lesu dan mengantuk sepanjang hari, fungsi otak juga ikut merosot tajam sehingga dapat memicu munculnya beragam masalah kesehatan mental. 

Apa saja masalah kejiwaan yang mungkin terjadi akibat kurang tidur? 

1. Otak jadi lambat 

Para peneliti telah menemukan bahwa akibat kurang tidur dapat menyebabkan kewaspadaan dan konsentrasi otak menurun. Tak heran jika setelah berjam-jam (atau bahkan berhari-hari) tidak tidur nyenyak, Anda jadi suka bingung sendiri, gampang lupa, dan sulit berpikir jernih. 

Dalam dunia medis, kondisi gangguan berpikir akibat otak yang kelelahan ini sering disebut sebagai brain fog. Tapi Anda mungkin lebih familiar dengan istilah lemot. Otak yang lemot membuat Anda kesulitan mengambil keputusan penting. 

Meski terkesan sepele, brain fog ini tidak boleh disepelekan karena bisa jadi merupakan gejala awal dari penyakit demensia. 


2. Gampang lupa Ketika Anda mengantuk, 

Anda cenderung gampang lupa. Selain karena konsentrasi dan fokus otak yang memburuk, akibat kurang tidur, ingatan juga perlahan memburuk. Pasalnya selama Anda tidur, saraf-saraf dalam otak yang menyimpan ingatan punya kesempatan memperbaiki diri. 

Seorang ahli dari Fakultas Kedokteran Universitas Maryland di Amerika Serikat (AS), dr. Avelino Verceles, mengatakan, “Saat tidur, otak merekam berbagai hal yang telah kita pelajari dan alami seharian ke dalam ingatan jangka pendek.” 

(Itu sebabnya Anda juga tidak boleh pergi tidur dalam keadaaan marah) 


3. Sulit menerima informasi baru 

Kurang tidur bisa memengaruhi kemampuan Anda untuk memahami informasi baru lewat dua cara. Pertama, Anda akan menjadi tidak fokus sehingga sulit untuk menerima informasi baru. Dengan begitu, Anda tidak dapat belajar dengan efisien. 

Kedua, seperti yang telah disebutkan di atas, kurang tidur berdampak pada kemampuan mengingat. Daya ingat yang lemah akan mempersulit Anda untuk menyimpan informasi baru yang Anda pelajari ke dalam ingatan. 


4. Memicu penyakit mental 

Kurang tidur memang bukan penyebab langsung dari gangguan kejiwaan. Meskipun begitu, beragam penelitian menemukan adanya potensi besar kemunculan beberapa penyakit mental, seperti depresi, ADHD, gangguan kecemasan, dan gangguan bipolar sebagai akibat kurang tidur. 

Sebuah penelitian di Michigan, AS, mengamati seribu orang berusia 21 hingga 30 tahun. Hasilnya, mereka yang mengidap insomnia pada wawancara pertama memiliki risiko empat kali lebih besar menderita depresi ketika diwawancara lagi tiga tahun setelahnya. 

Studi lain menemukan bahwa masalah gangguan tidur terjadi sebelum munculnya depresi. Selain itu, penderita depresi yang mengalami insomnia akan lebih sulit disembuhkan dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami insomnia. 

Pada sebuah penelitian, para ahli menemukan bahwa insomnia dan gangguan tidur lainnya mungkin memperparah episode mania (manic) atau depresi (depressive) pada pasien dengan gangguan bipolar. Kurang tidur itu sendiri dipercaya dapat memicu episode mania, yaitu fase ledakan emosi atau perilaku yang tak terkendali. Akibat kurang tidur juga dapat memicu gangguan kecemasan. 

Satu studi melaporkan bahwa sekitar 27 persen pasien dengan gangguan kecemasan diawali dengan insomnia yang membuat seseorang susah tidur.


Sumber :

https://lifestyle.kompas.com/read/2017/09/07/175433920/dampak-kurang-tidur-dari-cepat-pikun-sampai-depresi?page=all#page2.

Sunday, September 20, 2020

Hobi yang Bisa Cegah Otak Jadi Mandek

Hobi Baru Ini Bisa Cegah Otak Jadi Mandek, Salah Satunya Main Game


Di tengah pandemi virus Corona yang belum tahu kapan berakhirnya, membuat orang-orang harus melakukan berbagai kegiatan di rumah. Mulai dari bekerja, sekolah, bahkan beribadah.

Bahkan dengan terus bertambahnya kasus, masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang sudah diterapkan saat ini semakin diperpanjang. Hal ini membuat pikiran serta ide yang kita punya jadi mandek alias terhambat.

Supaya otak kita tetap encer dalam mendapatkan ide-ide yang cemerlang, mungkin perlu melakukan berbagai kegiatan baru untuk menghindari kemungkinan pikun dini. Dikutip dari Life Hack, berikut 4 hobi baru yang bisa kamu coba di rumah.


1. Main game

Menurut penelitian yang dilakukan Leiden University, bermain game bisa mengembangkan working memory atau sebuah sistem di otak yang bertugas untuk menyimpan dan memproses informasi. Baik yang baru maupun sudah lampau.

Selain itu, hasil riset dari Charite pada 2013 mengatakan bermain game juga bisa memperbaiki performa navigasi ruang, perencanaan strategis, dan performa motorik. Jika dilakukan selama 30 menit sehari, bisa meningkatkan gray matter di otak yang menjadi pusat saraf.

Tapi perlu diingat, game yang dimaksud ini adalah permainan yang memacu otak untuk berpikir dan memecahkan masalah, seperti teka-teki silang, puzzle, rubik, dan sebagainya.


2. Main musik

Berdasarkan penelitian Boston Children's Hospital, anak-anak yang bisa bermain alat musik mengalami peningkatan kemampuan verbal, seperti berbicara lebih cepat dan lancar.

Selain itu, penelitian lain menyebutkan musik meningkatkan fungsi kognitif memori, pemecahan masalah, serta pengenalan pola. Efek tersebut juga berpengaruh pada orang-orang di usia dewasa, setengah baya, dan tua.

Bermain alat musik juga mempengaruhi kecepatan otak dalam memproses informasi, yang berguna saat belajar, bekerja, atau kegiatan lain yang menuntut otak berpikir.


3. Banyak baca

Membaca bisa meningkatkan konektivitas di korteks temporal kiri otak, yaitu bagian yang berhubungan dengan penyerapan informasi. Hal ini bisa terjadi karena aktivitas tersebut merangsang pertumbuhan jalur saraf baru.

Dengan membaca juga bisa melenturkan bagian otak yang berurusan dengan pemecahan masalah, melihat pola, dan menafsirkan perkataan orang lain. Baca apa yang kamu sukai agar otak tetap berenergi, termasuk komik dan bacaan ringan lainnya.


4. Olahraga

Kegiatan dengan sejuta manfaat ini ternyata juga bisa meningkatkan daya ingat otak terhadap objek. Menurut penelitian Dartmouth College, rutin olahraga bisa membuat otak menghasilkan suatu zat protein bernama Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF) dalam aliran darah.

Artinya, saat darah mengalir melalui otak, sel-sel yang menyerap protein ini bertanggung jawab untuk meningkatkan memori dan fokus. Selain itu, BDNF juga berpengaruh untuk mempertajam daya ingat. Caranya bisa dengan berenang, bersepeda, atau jogging.


Sumber :

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5025338/hobi-baru-ini-bisa-cegah-otak-jadi-mandek-salah-satunya-main-game

Tuesday, November 5, 2019

Berusia 100 Tahun dan Belum Pikun

Ini Rahasia Tetap Sehat Mak Iyah dari Cianjur


Kompas.com - 06/11/2019

Rukiyah alias Mak Iyah, lansia asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat hidup sebatang kara di gubuk reyot di areal kebun sayur di di Kampung Pasir Baing, RT 005/003 Desa Sukatani, Kecamatan Pacet. Mak Iyah mengaku usianya sudah 100 tahun.

Namun ia lupa di mana menyimpan KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga), “Umur emak mah sudah seratus tahun,” ucap Mak Iyah saat ditemui Kompas.com di gubuk reyotnya, Sabtu (02/11/2019).

Meski sudah berusia seabad, namun ia masih sanggup berjalan kendati pelan dan sesekali harus berhenti.

Gigi-giginya masih tampak di antara kulit wajahnya yang sudah mengeriput. Selain itu, Mak Iyah belum terlihat pikun. Ia masih mampu menjawab pertanyaan yang diajukan. Kendati untuk berkomunikasi dengannya harus menaikkan volume suara ditambah isyarat tangan. Pasalnya, sudah lama mak Iyah mengalami gangguan pendengaran.

Mak Iyah Sering Digigit Serangga dan Pernah Dipatuk Ular Rahasia Mak Iyah Mak Iyah menceritakan sepanjang hidupnya selalu mengonsumsi sayuran mentah alias lalapan. Ia mengaku belum pernah diterjang sakit yang terbilang parah.

“Paling batuk, panas sama meriang. Mak mah suka makan lalab (sayuran mentah) tiap hari. Kalau tidak ada makanan, mak makan itu saja,” ujarnya. Sebelum tubuhnya ringkih seperti sekarang ini, ia pernah menjadi buruh perkebunan.

Namun karena usianya yang terus menua, Mak Iyah kini sudah tak sanggup lagi bekerja. "Tos teu tiasa barang damel (sudah tidak bisa bekerja), kieu we di saung (diam saja di rumah)," ucapnya.

Pengakuan Mak Iyah soal usianya yang sudah seabad itu dibenarkan kerabat dan tetangga setempat. "Usianya sekitar 100 tahunan," tutur Erah (65) kerabat terdekat Mak Iyah kepada Kompas.com, Sabtu (02/11/2019).

"Soalnya memang Mak Iyah sudah sangat tua, sejak zaman ibu saya juga sudah ada. Mak Iyah orang asli sini,” lanjutnya.  “Waktu ada pendataan juga disebutkan usianya segitu (100 tahun),” sahut warga yang lain.

Hidup sebatang kara Erah menceritakan, dulunya mak Iyah tinggal bersama suaminya, Uko. Namun sang suami meninggal dunia karena sakit menahun. “Sudah 30 tahun mak Iyah ditinggal suaminya. Kalau anaknya meninggal saat dilahirkan.

Jadi, Mak Iyah ini tidak punya anak,” ucapnya. Sebelum jari-jari tangannya yang sebelah kanan mati rasa akibat dipatuk ular, Mak Iyah pernah bekerja di kebun. “Jari tangannya memang pernah digigit ular. Saya sendiri yang bawa ke dokternya untuk diobati," tutur Erah.

"Alhamdulilah bisa sembuh, tapi jari-jarinya jadi merengkel (bengkok) sehingga sudah tidak bisa digerakkan.”  Selain itu, kondisi fisik yang terus menua membuat Mak Iyah tak mungkin lagi bekerja untuk mencari nafkah.

“Sejak tidak bekerja, untuk kebutuhan sehari-hari dibantu warga," lanjut Erah.  "Ada yang ngasih beras, nasi, makanan, yang sedekah uang juga ada. Warga juga suka ada yang berkunjung ke sini (rumah Mak Iyah) untuk melihat kondisinya.”

Berharap mendapat bantuan Sebelumnya diberitakan, seorang perempuan lansia di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat hidup memprihatinkan di gubuk reyot di Kampung Pasir Baing, RT 005/003 Desa Sukatani, Kecamatan Pacet. Rukiyah atau biasa dipanggil Mak Iyah tinggal sebatang kara di rumah tak layak huni dengan kondisi hampir ambruk di areal kebun sayuran.

Warga setempat, Aripin (50) berharap, pemerintah daerah maupun pemerintah desa mau mengulurkan bantuan atas kondisi kehidupan Mak Iyah. Sepengetahuannya, belum ada bantuan dari program pemerintah, seperti PKH dan rastra. Untuk makan sehari-hari, mak Iyah dibantu tetangga dan warga sekitar. Ia berharap pemerintah mau peduli kepada warga seperti Mak Iyah yang sangat membutuhkan perbaikan rumah agar bisa hidup dengan rasa aman dan nyaman.


Sumber :
https://regional.kompas.com/read/2019/11/06/11054191/berusia-100-tahun-dan-belum-pikun-ini-rahasia-tetap-sehat-mak-iyah-dari?page=all#page2.

Friday, October 4, 2019

Dementia, Gets Memory Back After Changing Diet

82-Year-Old Woman With Dementia Gets Her Memory Back After Changing Her Diet
Published 1 year ago on April 27, 2018By Alanna Ketler

Recently, an 82-year-old woman who suffered from dementia, who couldn’t recognize her own son has miraculously got her memory back after changing her diet.

When his mother’s condition became so severe that for her own safety she had to be kept in the hospital, Mark Hatzer almost came to terms with losing another parent.

Sylvia had lost her memory and parts of her mind, she had even phoned the police once accusing the nurse who were caring for her of kidnap.

A change in diet, which was comprised of high amounts of blueberries and walnuts, has proven to have had a strong impact on Sylvia’s condition that her recipes are now being shared by the Alzheimer’s Society.

Sylvia also began incorporating other health foods, including broccoli, kale, spinach, sunflower seeds, green tea, oats, sweet potatoes and even dark chocolate with a high percentage of cacao. All of these foods are known to be beneficial for brain health.

Mark and Sylvia devised to diet together after deciding that the medication on its own was not enough, they looked into the research showing that rates of dementia are much lower in Mediterranean countries and copied a lot of their eating habits.

Mark, whose brother Brent also died in 1977, said: “When my mum was in hospital she thought it was a hotel – but the worst one she had ever been in.

“She didn’t recognise me and phoned the police as she thought she’d been kidnapped.

“Since my dad and brother died we have always been a very close little family unit, just me and my mum, so for her to not know who I was was devastating.

“We were a double act that went everywhere together. I despaired and never felt so alone as I had no other family to turn to.

“Overnight we went from a happy family to one in crisis.

“When she left hospital, instead of prescribed medication we thought we’d perhaps try alternative treatment.

“In certain countries Alzheimer’s is virtually unheard of because of their diet.

“Everyone knows about fish but there is also blueberries, strawberries, Brazil nuts and walnuts – these are apparently shaped like a brain to give us a sign that they are good for the brain.”

There were also some cognitive exercises that Mark and his mother would do together like jigsaw puzzles crosswords and meeting people in social situations, Sylvia would also exercise by using a pedaling device outfitted for her chair.

Mark said, “It wasn’t an overnight miracle, but after a couple of months she began remembering things like birthdays and was becoming her old self again, more alert, more engaged..

“People think that once you get a diagnosis your life is at an end. You will have good and bad days, but it doesn’t have to be the end. For an 82-year-old she does very well, she looks 10 years younger and if you met her you would not know she had gone through all of this.

“She had to have help with all sorts of things, now she is turning it around. We are living to the older age in this country, but we are not necessarily living healthier.”

The Body’s Ability To Heal Is Greater Than Anyone Has Permitted You To Believe
This story just goes to show how resilient our bodies really are if given the right environment. Most of these types of diseases are often related to diet in the first place so that means that they can indeed be reversed with a proper diet. Sure, some of them are genetic and you might be a carrier of the gene, but that is not a guarantee that it will become active, there are things you can do to minimize the risk. Our health is our greatest wealth. We have to realize that we do have a say in our lives and what our fate is.

We have covered the topic before of how aluminum build up in the brain is directly related to dementia and more specifically Alzheimer’s disease, being able to identify this as a cause is important because recognizing this means we can do our part to limit the exposure and to also detoxify our brains and bodies from this damaging heavy metal.

In an article titled, Strong evidence linking Aluminum to Alzheimer’s, recently published in The Hippocratic Post website, Exley explained that:

“We already know that the aluminium content of brain tissue in late-onset or sporadic Alzheimer’s disease is significantly higher than is found in age-matched controls. So, individuals who develop Alzheimer’s disease in their late sixties and older also accumulate more aluminium in their brain tissue than individuals of the same age without the disease.

Even higher levels of aluminium have been found in the brains of individuals, diagnosed with an early-onset form of sporadic (usually late onset) Alzheimer’s disease, who have experienced an unusually high exposure to aluminium through the environment (e.g. Camelford) or through their workplace. This means that Alzheimer’s disease has a much earlier age of onset, for example, fifties or early sixties, in individuals who have been exposed to unusually high levels of aluminium in their everyday lives.”

His most recent study, published by the Journal of Trace Elements in Medicine and Biology in December 2016, titled: Aluminium in brain tissue in familial Alzheimer’s disease, is one of the many studies that he and his team have conducted on the subject of aluminum over the years. However, this study in particular is believed to be of significant value, because it is the first time that scientists have measured the level of aluminum in the brain tissue of individuals diagnosed with familial Alzheimer’s disease. (Alzheimer’s disease or AD is considered to be familial if two or more people in a family suffer from the disease.)

According to their paper, the concentrations of aluminum found in brain tissue donated by individuals who died with a diagnosis of familial AD, was the highest level ever measured in human brain tissue.

Professor Exley wrote:

“We now show that some of the highest levels of aluminium ever measured in human brain tissue are found in individuals who have died with a diagnosis of familial Alzheimer’s disease.

The levels of aluminium in brain tissue from individuals with familial Alzheimer’s disease are similar to those recorded in individuals who died of an aluminium-induced encephalopathy while undergoing renal dialysis.”

He explained that:

“Familial Alzheimer’s disease is an early-onset form of the disease with first symptoms occurring as early as 30 or 40 years of age. It is extremely rare, perhaps 2-3% of all cases of Alzheimer’s disease. Its bases are genetic mutations associated with a protein called amyloid-beta, a protein which has been heavily linked with the cause of all forms of Alzheimer’s disease.

Individuals with familial Alzheimer’s disease produce more amyloid beta and the onset of the symptoms of Alzheimer’s disease are much earlier in life.”


Sumber :
https://www.collective-evolution.com/2018/04/27/82-year-old-woman-with-dementia-gets-her-memory-back-after-changing-her-diet/?fbclid=IwAR0lAWwfK5RQJy8yGPmWjfcS7rc_pWYJGAXbmyfol6k5mRb1fOGqnMe5QV4

Sunday, September 22, 2019

Demensia Adalah Bagian Normal dari Penuaan?

Survei: Dua dari Tiga Orang di Dunia Berpikir Demensia Adalah Bagian Normal dari Penuaan


Hasil dari survei tentang sikap dan perilaku umum terhadap demensia mengungkapkan kurangnya pengetahuan global tentang penyakit Alzheimer. Hal ini disebabkan karena dua pertiga orang masih berpikir bahwa demensia adalah bagian normal dari penuaan daripada gangguan neuro-degeneratif.

Laporan Alzheimer's Disease International (ADI) yang diberi judul: Attitudes to Dementia  juga menandai Hari Alzheimer Sedunia. Laporan ini mengungkapkan hasil dari survei terbesar yang pernah dilakukan di dunia mengenai sikap dan perilaku umum terhadap demensia melibatkan sekitar 70.000 orang dari 155 negara dan wilayah. Analisis data dilakukan oleh London School of Economics dan Political Science (LSE) UK, mitra dari Alzheimer’s Disease International.

Survei ini mengungkapkan bahwa stigma seputar demensia menghalangi publik untuk tidak segera mencari informasi, saran, dukungan, dan bantuan medis. Padahal hal tersebut dapat secara dramatis meningkatkan kualitas hidup mereka dari demensia, salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia.

Saat ini, jumlah Orang Dengan Demensia (ODD) diperkirakan sekitar lebih dari 50 juta dan akan meningkat menjadi 152 juta di tahun 2050. Ada sekitar 23 juta orang dengan demensia di Asia Pasifik, 1.2 juta di Indonesia dan akan menjadi 4 juta pada tahun 2050.

Laporan tersebut mengungkapkan sikap seputar demensia. Responden dari survei tersebut adalah Orang Dengan Demensia (ODD), family caregivers, perawat, praktisi kesehatan dan masyarakat umum.

Salah satu hasil yang mengkhawatirkan adalah masih berapa banyaknya orang di seluruh dunia yang berpikir bahwa demensia adalah bagian alami dari proses penuaan. 48% responden percaya seseorang dengan demensia tidak akan pernah membaik ingatannya, bahkan dengan dukungan medis, sementara satu dari empat orang berpikir tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah demensia.

Ini merupakan hambatan utama bagi orang yang ingin mengakses bantuan, saran dan dukungan. Stigma serupa juga berhubungan dengan masalah kesehatan mental, yang berfokus pada usia, berdasarkan kurangnya perawatan medis yang tersedia. Maka dari itu masyarakat perlu membuka diri dengan berdiskusi dan menghilangkan stigma agar kita dapat meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan Demensia dan keluarganya.

Pimpinan Alzheimer’s Disease International (CEO) Paola Barbarino mengatakan: "Stigma adalah penghalang terbesar yang membatasi orang di seluruh dunia dari peningkatan kualitas hidup Orang Dengan Demensia. Konsekuensi dari stigma adalah tiga hal yang sangat penting untuk dipahami.

Di tingkat individu, stigma dapat merusak tujuan hidup dan mengurangi partisipasi dalam kegiatan kehidupan yang bermakna dan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah dan kehidupan yang berkualitas.

Di tingkat masyarakat, stigma struktural dan diskriminasi dapat memengaruhi tingkat pendanaan yang dialokasikan untuk perawatan dan dukungan. Saat ini terdapat sangat sedikit informasi tentang bagaimana stigma bermanifestasi dalam kaitannya dengan Orang Dengan Demensia dan bagaimana hal ini dapat bervariasi di seluruh dunia.

Dengan adanya survei dan laporan terperinci ini  memberi kita dasar informasi untuk stigma terkait demensia di tingkat global, regional dan nasional dan kami berharap temuan ini dapat memulai reformasi positif di level global."

Laporan itu juga menemukan bahwa sekitar 50% Orang Dengan Demensia merasa diabaikan oleh para praktisi kesehatan (dokter dan perawat) sementara 33% orang berpikir bahwa jika mereka terkena demensia, mereka tidak akan didengarkan oleh para praktisi profesional kesehatan maupun dokter.

Menariknya, 95% responden berpikir bahwa mereka dapat terkena demensia dalam hidupnya dan lebih dari dua pertiga orang (69,3 persen) akan mengambil tes profil genetik untuk mengetahui apakah mereka berisiko terkena demensia. Sementara itu, dua dari tiga orang masih berpikir demensia adalah bagian alami dari penuaan.

Rasa takut terkena demensia juga tinggi secara global, tetapi pemahaman sebenarnya tentang penyakit ini rendah. Ini mengkhawatirkan, karena Demensia dan Alzheimer merupakan penyebab kematian nomor 5 di dunia.

ADI meluncurkan kampanye globalnya “Let's Talk About Dementia” bersama 100 anggotanya di seluruh dunia termasuk Alzheimer Indonesia pada tanggal 1 September untuk menandai awal dari bulan kesadaran mengenai Demensia. Kampanye ini didasarkan pada pemahaman bahwa berbicara tentang demensia membantu mengatasi stigma, menormalkan situasi, dan memotivasi orang untuk mencari tahu lebih banyak, mencari bantuan, saran, dan dukungan.

Dengan sekitar 250 juta penduduk di Indonesia, ada sekitar 20 juta orang lanjut usia (60 tahun ke atas) dan 1.2 juta Orang Dengan Demensia (berdasarkan data Alzheimer's DIsease International, 2017). Setiap 3 detik seseorang di dunia terkena demensia tetapi kebanyakan orang dengan demensia tidak menerima diagnosis atau dukungan.

Hal ini akan membebani ekonomi seiring dengan meningkatnya biaya demensia sekitar US $ 1 triliun - angka yang ditetapkan dua kali lipat pada tahun 2030. Di Indonesia sendiri, biaya demensia adalah US $ 2 miliar (Alzheimer’s Disease International, 2017). Kematian karena demensia meningkat lebih dari dua kali lipat antara tahun 2000 dan 2016, menjadikannya penyebab utama ke-5 kematian global pada tahun 2016 dibandingkan dengan ke-14 pada tahun 2000.

Kampanye "Ayo Bicara Tentang Demensia" bertujuan untuk merangsang percakapan tentang demensia, memahami gejalanya, faktor risiko, siapa yang harus ditanya dan ke mana harus meminta nasihat. Kurangnya pengetahuan tentang demensia menyebabkan asumsi yang tidak akurat tentang dampaknya yang sangat fatal pada orang dan keluarga mereka, serta stereotip negatif tentang bagaimana seseorang dengan demensia akan berperilaku.

Bukti menunjukkan, bahwa ketika Orang Dengan Demensia dan keluarga pendamping mereka dipersiapkan dengan baik dan mendapat dukungan penuh, perasaan kaget, kemarahan, dan kesedihan akan diimbangi oleh rasa tenteram dan terberdayakan.

Di Indonesia, selain dialog ini diadakan serentak dengan melakukan 65 kegiatan di 20 kota, salah satunya adalah dengan dihadirkannya Centre of Excellence Demensia sebagai bentuk kerjasama ALZI dengan Unika Atma Jaya.

Selain itu juga ada acara peluncuran buku A to Z Alzheimer - penanganan gangguan perilaku pada Orang Dengan Demensia karya Dr. dr. Yuda Turana SpS dan DY Suharya. ALZI berharap dengan diluncurkannya buku ini pemahaman publik semakin meningkat demi tercapainya peningkatan kualitas hidup ODD dan keluarganya.(*)


Sumber :
https://www.hariansuara.com/news/kesehatan/16689/survei-dua-dari-tiga-orang-di-dunia-berpikir-demensia-adalah-bagian-normal-dari-penuaan

Thursday, August 22, 2019

Ingatan Berlalu dengan Cepat

Demensia, Ingatan Berlalu dengan Cepat

Menua adalah kepastian. Tak hanya hitungan usia yang menua, fungsi organ tubuh pun akan menua, tak terkecuali otak. Namun, laju penurunan fungsi otak berbeda antara satu orang dan yang lain. Semua bergantung pada investasi kesehatan yang dibangun sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan.

Oleh
DEONISIA ARLINTA

Seorang ibu sedang menjalani tes deteksi dini demensia alzheimer di pelayanan kesehatan yang berada di acara Jalan Sehat Peduli Alzheimer, di Jakarta, Minggu (21/9/2014).

Menua adalah kepastian. Tidak hanya hitungan usia yang menua, fungsi organ tubuh pun akan menua, tak terkecuali organ otak. Namun, laju penurunan fungsi otak berbeda-beda antara satu orang dan yang lain. Semua bergantung pada investasi kesehatan yang dibangun sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan.

Salah satu kondisi penurunan fungsi kognitif otak yang bisa dialami seseorang terutama di usia lanjut adalah demensia. Kondisi ini terjadi ketika penurunan fungsi kognitif otak terjadi secara progresif sehingga mengganggu fungsi sosial pekerjaan. Demensia tidak hanya membawa beban kepada orang yang mengalaminya, tetapi juga orang di sekitarnya.

Menjalani hidup sebagai caregiver atau pendamping bagi orang dengan demensia tidaklah mudah. Berbagai keluhan yang dilontarkan orang dengan demensia cukup rumit, mulai dari penyakit fisik, kesulitan tidur, halusinasi, hingga masalah mental dan emosional. Belum lagi, biasanya orang dengan demensia merupakan lanjut usia.

Kondisi itulah yang harus dihadapi selama delapan tahun oleh Kusumadewi Suharya. Ibunya terdiagnosis demensia sejak 2009. ”Masa-masa itu (saat menjadi pendamping bagi orang dengan demensia) bisa dibilang sebagai sebuah episode kelam yang sungguh tidak mudah bagi saya dan keluarga. Meski begitu, setelah dijalani, kehidupan yang tetap berkualitas dalam mendampingi ODD (orang dengan demensia) harus diciptakan dengan baik,” kata pendiri Alzheimer Indonesia (Alzi) yang biasa disapa DY Suharya ini.

Ia mengakui, berkomunikasi dengan orang demensia butuh pemahaman khusus. Jika dijalankan tanpa pengertian dan kesadaran yang baik justru semakin menjadi beban. Atas dasar itulah, DY pun mendirikan Alzi sebagai wadah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat, khususnya bagi caregiver orang dengan demensia.

Seharusnya demensia (pikun) baru muncul pada usia 90 tahun. Namun, penyakit tersebut bisa timbul lebih dini jika lansia tidak aktif mengisi hidupnya (foto diperagakan oleh model).

Menurut dia, berkomunikasi dengan ODD lebih efektif dengan menyetujui dan mengiyakan pernyataan yang disampaikan dibandingkan dengan membantahnya. Jika ODD mulai emosional sebaiknya pendamping mengalihkan perhatian daripada memberikan alasan yang mungkin mudah dilupakan. ”Selain itu, pastikan pendamping tidak menggurui dan lebih baik ulang kembali apa yang pernah dikatakan. Usahakan menghindari kalimat ’sudah saya beri tahu, kan’,” ucapnya.

Dokter spesialis penyakit saraf dari Rumah Sakit Atma Jaya Jakarta, Yuda Turana, menyampaikan, pengendalian demensia yang terbaik adalah pada aspek pencegahan. Selain itu, pemahaman mengenai gejala demensia juga harus ditingkatkan. Semakin cepat gejala terdeteksi, pengobatan bisa semakin mudah dan bisa menyelamatkan kualitas hidup seseorang.

”Pemahaman yang harus ditanamkan adalah jangan menganggap lupa atau pikun pada warga lansia itu wajar. Pikun adalah gejala awal yang paling umum dialami oleh orang dengan demensia,” ucapnya.

Selain gangguan pada daya ingat, gejala umum lainnya adalah sulit fokus dalam beraktivitas, disorientasi pada lokasi dan hari penting, gangguan dalam berkomunikasi, serta perubahan perilaku dan kepribadian seperti mudah curiga dan depresi.

Biasanya, gejala pada orang dengan demensia ditandai juga dengan kebiasaan menaruh barang tidak pada tempatnya, misalnya menaruh gunting kuku di dalam kulkas. Apabila gejala-gejala tersebut sudah tampak dari orang terdekat, sebaiknya segera bawa ke tenaga kesehatan ahli.

Untuk mendiagnosis demensia, seseorang terlebih dahulu akan diuji secara psikologis dengan tes pertanyaan. Setelah itu, pemetaan otak akan dilakukan melalui pemindaian dengan magnetic resonance imaging (MRI). Pemindaian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan pada kerusakan otak atau gangguan yang terjadi.

Yuda menjelaskan, ada tiga jenis demensia yang cukup banyak ditemui di Indonesia, yakni demensia vaskular, demensia lewy body, dan demensia alzheimer. Demensia vaskular banyak dialami oleh pasien dengan gangguan vaskular (pembuluh darah), seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, dan jantung. Demensia jenis ini bisa diobati agar tidak semakin parah jika fungsi pembuluh darah belum mati.

Demensia lewy body adalah jenis demensia progresif yang mengganggu cara berpikir, daya ingat, dan gerakan tubuh seseorang. Orang dengan demensia lewy body sering mengalami halusinasi visual dan sulit fokus. Terkadang, gejala fisik yang dialami seperti otot kaku, gerak tubuh melambat, dan tremor.

Sementara itu, demensia alzheimer merupakan jenis demensia yang banyak dialami. Gejalanya, seseorang akan mengalami pikun berat, perilaku berubah, dan kehilangan kontrol, seperti buang air di celana. Seseorang yang telah terdiagnosis demensia akan mendapatkan obat-obatan simtomatis atau obat untuk mengatasi gejala yang berfungsi untuk memperlambat laju degenerasi otak.

Yuda menuturkan, kemajuan teknologi dalam pelayanan kesehatan mampu meningkatkan usia harapan hidup seseorang, termasuk orang dengan demensia. Namun, tantangan terbesarnya justru pada kualitas dan produktivitas hidup yang dijalani.

”Pada orang dengan demensia, harapan hidupnya bisa 8-10 tahun, bahkan lebih. Kondisi ini memang baik, tetapi ketika seseorang sudah terdiagnosis demensia ada double burden (beban ganda), yaitu beban bagi orang dengan demensia itu sendiri dan pendamping atau keluarganya. Jadi, langkah terbaik adalah pencegahan dengan gaya hidup sehat serta deteksi demensia sejak dini. Ingat, pikun yang dialami orang lanjut usia itu tidak wajar,” tuturnya.


Sumber :
https://bebas.kompas.id/baca/bebas-akses/2019/08/21/memori-masa-tuademensia-ingatan-berlalu-dengan-cepat/?utm_source=bebas_kompas_id&utm_medium=social&utm_campaign=socmed_share&fbclid=IwAR2DHYzqjmPnGvFxl6aEwpAaOAdb-6fm58YIqlbjN3lcLu1YmPJ09GyvmgI

Friday, August 9, 2019

Latihan Asah Otak Agar Tak Pikun

4 Latihan Asah Otak Agar Tak Pikun Saat Tua Nanti


Saat sedang membicarakan buku yang baru saja selesai Anda baca, tiba-tiba Anda tidak bisa mengingat judulnya. Atau mungkin, memasuki satu ruangan, tapi Anda tidak ingat untuk apa Anda ke sana.

Familiar dengan skenario di atas?

Pikun dan lupa memang menyebalkan, namun umumnya tidak menjadi prioritas yang harus dikhawatirkan. Otak kita mampu menghasilkan sel-sel baru pada usia berapapun. Tapi, sama halnya dengan kekuatan otot, ingatan yang kuat bergantung pada kesehatan dan vitalitas otak Anda. Pikun dan lupa kebanyakan disebabkan oleh pola makan yang buruk dan kurangnya latihan otak.

Asah otak Anda dengan sistem memori. Sistem memori melibatkan penggunaan visualisasi dan kata kunci, sebuah teknik mental yang Anda gunakan untuk membuat petunjuk visual demi mengingat.

Visualisasi mental yang Anda buat bertindak sebagai lambang yang mewakili fakta dalam ingatan Anda. Alasannya, mata bisa memproyeksikan suatu informasi menjadi sebuah gambar, lebih baik daripada informasi abstrak yang hanya Anda baca atau dengar.

Dipadankan dengan visualisasi, teknik sistem memori dapat menajamkan ingatan terhadap nama, tanggal, informasi acak, definisi, bahkan bahasa asing.

Empat trik asah otak untuk memperkuat daya ingat

1. Kata kunci
Metode kata kunci adalah teknik yang sangat ampuh untuk mengingat definisi dan kosa kata asing. Asosiasikan bunyi pelafalan suatu kata dengan visualisasi lucu atau aneh.

Misalnya, untuk mengingat kata “wiener” (sosis dalam bahasa Jerman), hubungkan dengan kata “winner” (pemenang dalam bahasa Inggris) dan imajinasikan visualisasi mental dari sebuah sosis sapi yang berdiri di atas podium setelah menang balap mobil.

Ketika sesuatu yang aneh, unik, atau luar biasa terjadi, Anda akan cenderung untuk lebih cepat mengingatnya. Itulah alasan mengapa mengimajinasikan sesuatu yang lucu, bahkan hampir tidak mungkin, merupakan kunci utama kesuksesan metode ini.

2. Peg
Anda tentu tidak akan lupa bagaimana menghitung 123 atau melafalkan abjad dari A-Z. Yang menjadi masalah adalah mengaitkan informasi yang ingin Anda ingat dengan sebuah angka atau huruf abstrak (yang sulit untuk divisualisasikan). Sistem peg solusinya.

Sistem peg adalah sebuah teknik patokan untuk Anda mengingat apa yang seharusnya Anda ingat, dengan membuat angka atau huruf abstrak tersebut menjadi nyata.

Misalnya, dengan teknik rima:

1 = Satu = Batu
2 = Dua = Gua
3 = Tiga = Iga, dan seterusnya.

3. Link
Jika Anda sudah menguasai dua metode “visualisasi + kata ganti” di atas, kini tingkatkan kemampuan mengingat Anda dengan metode Link.

Metode link paling baik digunakan untuk mengingat bahan bacaan, termasuk daftar, artikel, puisi, lirik, dan cerita.

Untuk membuat kaitan pertama, asosiasikan dua fakta pertama dengan satu sama lain menggunakan visualisasi mental. Untuk kaitan kedua, gunakan visualisasi mental sebelumnya dan tambahkan fakta ketiga. Begitu seterusnya.

Misalnya kita perlu menghafal tabel unsur kimia, buatlah singkatan-singkatan aneh seperti:

H = Haji
Li = Lina
Na = Naik
K = Kereta
Rb = Ribut
Cs = Calon Suami
Fr = Frustasi

Kemudian, gabungkan fakta-fakta tersebut secara berurutan dan buatlah cerita yang berkaitan. Jadinya: Haji Lina Naik Kereta Ribut, Calon Suaminya Frustasi.

4. Loci
Loci berasal dari bahasa latin yang berarti lokasi atau tempat. Metode loci memanfaatkan kemampuan otak, khususnya di bagian hippocampus, untuk menguatkan ingatan dengan konteks spasial. Metode loci menggabungkan sistem peg dengan visualisasi mental.

Misal Anda akan menghapal Pancasila. Anda tidak hanya diharuskan untuk menghapal semua poinnya, namun juga secara berurutan.

Beberapa orang mengaku tidak bisa membayangkan gambar dalam pikirannya. Tapi, Anda bisa membayangkan letak TV, meja, dan sofa di ruang keluarga Anda, kan?

Visualisasikan rute perjalanan yang familiar dengan Anda, dari kamar tidur ke ruang keluarga tersebut, misalnya. Fokuskan diri Anda untuk benar-benar memahami peta mental tersebut, bayangkan Anda sedang berjalan menyusurinya.

Menggunakan visualisasi mental tersebut, Anda bisa mematok salah satu fitur yang menonjol dari setiap ruangan tersebut dengan satu poin Pancasila. Tempat tidur sebagai sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa”, sofa ruang TV sebagai sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, dan seterusnya.

Yang penting adalah untuk memastikan setiap fitur penanda tersebut berada dalam urutan yang tepat yang biasa Anda lihat atau lewati setiap harinya. Rute tersebut adalah langkah yang akan memungkinkan Anda untuk mengingat urutan yang tepat dari daftar yang harus Anda ingat. Bahkan, jika Anda bisa memvisualisasikan jalan pulangnya, Anda pun akan bisa mengingat Pancasila dalam urutan terbalik!

Dua hal yang membantu mempertajam ingatan
Baik jika Anda seorang siswa yang sedang giat belajar menghadapi ujian akhir, atau Anda seseorang yang dituntut selalu mengeluarkan ide-ide kreatif di kantor, atau hanya ingin menjaga fungsi kognitif agar tetap tajam terpercaya, banyak cara yang bisa Anda lakukan untuk mengasah performa ingatan dan mental Anda. Selalu ingat dua hal ini untuk melatih ingatan Anda semakin tajam:

Fokus.
Anda tidak akan bisa mengingat sesuatu dengan baik jika Anda tidak pernah mempelajarinya, dan Anda tidak akan bisa mempelajari sesuatu dengan baik jika Anda tidak fokus. Hanya 8 detik waktu yang diperlukan untuk memproses suatu informasi baru dan menancapkannya dalam memori Anda, jika Anda mampu untuk berkonsentrasi penuh. Tips: cari tempat sepi dan ucapkan kalimat yang perlu Anda hapalkan dalam ritme yang mudah diingat.

Tulis. 
Akan lebih mudah untuk Anda mengingat sesuatu dalam jangka panjang jika Anda menulisnya. Menulis informasi baru dapat meningkatkan daya ingat dibanding dengan mendengarkan saja tanpa lakukan apapun. Pastikan Anda menulis janji temu/nama dan nomor telepon/daftar belanjaan dalam jurnal atau catatan kecil dan baca informasi tersebut keras-keras, dua kali.


Sumber :
https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/tips-trik-asah-otak-agar-tidak-cepat-pikun/

Sunday, September 16, 2018

Awas! Sering Baper dan Galau Bisa Picu Risiko Alzheimer


Sebagian besar dari kasus penyakit Alzheimer disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat seperti kurang berolahraga dan kurang mengonsumsi makanan seimbang gizi serta tidak produktif dalam beraktivitas. Selain itu, Alzheimer's Indonesia juga mengungkapkan bahwa pikiran negatif dan stres juga dapat memicu risiko Alzheimer di masa mendatang.

"Penyakit demensia (Alzheimer) tidak datang tiba-tiba. Banyak galau, stres, bisa memicu risiko," terang pendiri Alzheimer Indonesia sekaligus Deputy Regional Director Asia Pacific Regional Office Alzheimer's Disease International, DY Suharya, saat ditemui bersama Insan Medika di Grand Sahid Jaya Hotel, Sudirman.

Suharya menilai, kekuatan jiwa pada individu menjadi salah satu faktor yang berperan dalam menentukan risiko dari Alzheimer. Suharya mengatakan, bukan berarti tiap individu tidak boleh merasakan kegalauan atau baper alias terbawa perasaan. Suharya menyarankan agar tiap individu bisa memberikan tenggang waktu terhadap kegalauan yang dirasakan.

Karena itu, lanjut Suharya, demensia Alzheimer lebih banyak menyerang wanita daripada pria. Suharya melihat kecenderungan tersebut disebabkan oleh karakter wanita yang cenderung lebih banyak memendam perasaan dibandingkan pria yang cenderung lebih lugas.

"Karakter yang galau, baper, besar risikonya. Kalau mau galau kasih deadline," kata Suharya.

Pikiran negatif seperti galau dan stres yang dibiarkan dalam waktu lama akan membuat risiko Alzheimer semakin besar. Terlebih jika pikiran-pikiran negatif ini juga ditunjang oleh perilaku hidup yang tidak sehat seperti merokok dan minum alkohol, kurang olahraga, tidak produktif dalam beraktivitas, senang mengonsumsi makanan cepat saji dan kurang asupan makanan seimbang gizi.

"10, 20, 30 tahun lagi bisa saja kena (demensia Alzheimer)," ujar wanita yang akrab disapa DY ini.


Sumber :
https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/16/09/28/oe714u328-awas-sering-baper-dan-galau-bisa-picu-risiko-alzheimer

Wednesday, August 15, 2018

Sundowner’s Syndrome

Bagi orang yang berusia lanjut, khususnya yang mengidap penyakit Alzheimer atau demensia (penyakit pikun), terjadi fenomena peningkatan gejala kejiwaan seperti rasa cemas, marah, perilaku agresif dan hilang memori pada saat menjelang matahari terbenam, yang dikenal dengan sebutan sundowner’s syndrome.


Menjelang malam, penderita akan mengalami kebingungan, disorientasi, hilang ingatan, gangguan konsentrasi bahkan marah-marah hingga dapat melempar barang, yang semakin parah jika dibandingkan dengan saat pagi atau siang hari.

Gejala dari sindrom ini mendadak meningkat menjelang sore, matahari terbenam hingga malam hari.

Studi menunjukkan bahwa sindrom ini paling banyak terjadi pada orang lanjut usia yang menderita demensia (penyakit pikun) yang dirawat di rumah sakit.

Namun, dapat terjadi juga pada lanjut usia yang memiliki gangguan penglihatan, misalnya akibat degenerasi makula.

Gejala lain dari sindrom ini adalah perubahan mood, sikap ingin dilayani yang berlebihan, rasa curiga terhadap sekitar dan halusinasi (seakan melihat atau mendengar sesuatu) yang terjadi menjelang matahari terbenam.

Penyebab sindrom ini belum diketahui secara pasti.


Sumber :
https://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/lansia-kerap-marah-marah-jelang-sore-sundowners-syndrome

Sunday, December 10, 2017

Demensia Si Pencuri Memori Masa Tua


Seorang lanjut usia (lansia) umumnya kerap mengalami sejumlah gangguan kesehatan, atau gangguan yang berkaitan dengan fungsi organ tubuh. Seperti gangguan gejala demensia atau lebih dikenal dengan pikun.

Demensia bukan penyakit. Melainkan, gejala yang disebabkan penyakit atau kelainan pada otak. Banyak orang menganggap, demensia sebagai hal yang wajar terjadi pada seorang lansia.

Demensia atau pikun sering kali dikategorikan sebagai masalah kecil. Banyak orang menganggap pikun wajar terjadi pada orang lansia. Padahal jika tidak ditelusuri penyebabnya, pikun bisa berakibat fatal.

Penyebab paling umum demensia adalah penyakit Alzheimer. Penyakit ini disebabkan bagian otak yang tak berfungsi. Namun hingga kini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan Alzheimer secara total.

Kementerian Kesehatan pada 2015 mencatat, ada 1,2 juta jiwa yang menderita Alzheimer di Indonesia. Ini membuat, demensia perlu dideteksi dan diwaspadai sejak dini. Pengobatan dan penanggulangan harus sesuai dengan penyebab demensia tersebut.


Sumber :
https://www.liputan6.com/news/read/2686691/demensia-si-pencuri-memori-masa-tua

Penderita Demensia Diproyeksikan Berlipat Tiga dalam 30 Tahun

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan saat penduduk global bertambah usia, jumlah orang yang hidup dengan demensia diperkirakan berlipat tiga sampai 2050.

Demensia adalah istilah umum untuk beberapa penyakit yang kebanyakan progresif, mempengaruhi ingatan, kemampuan kognitif lain dan perilaku serta sangat mempengaruhi kemampuan seseorang melakukan aktivitas sehari-hari.

Di antara penyakit tersebut, Alzheimer`s adalah jenis demensia yang paling umum dan mencakup 60 sampai 70 persen kasus. Jenis lain yang umum ialah demensia vaskular dan bentuk campuran.


Badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan seluruh penduduk yang terdampak demensia dapat berlipat tiga dari 50 juta jadi 152 juta sampai 2050.

Biaya global tahunan saat ini untuk menangani demensia diperkirakan sudah mencapai 818 miliar dolar AS, setara dengan lebih dari satu persen produk domestik bruto global. Biayanya diperkirkaan bertambah menjadi dua kali lipat lebih atau sampai dua triliun dolar AS sampai 2030, sehingga akan sangat merusak pembangunan sosial dan ekonomi dan sangat membebani layanan sosial serta kesehatan, termasuk sistem perawatan jangka-panjang.

"Hampir sepuluh juta orang terserang demensia setiap tahun, enam juta di antara mereka di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus Direktur Jenderal WHO sebagaimana dikutip Antara dari Xinhua.

"Penderitaan yang diakibatkan sangat besar. Ini adalah seruan peringatan: kita harus memberi perhatian lebih besar pada tantangan yang berkembang ini dan memastikan semua orang yang hidup dengan demensia, di mana mereka tinggal, mendapatkan perawatan yang mereka perlukan," ia menambahkan.

Guna menghadapi tantangan itu, WHO pada Kamis (7/12/2017) meluncurkan Global Dementia Observatory, platform berbasis web untuk melacak kemajuan dalam penyediaan layanan bagi orang dengan demensia dan orang-orang yang merawat mereka.

Selain informasi mengenai sistem pengawasan dan data beban penyakit, sarana itu juga akan memantau keberadaan rencana dan kebijakan nasional, langkah pengurangan risiko dan prasarana penyediaan perawatan dan pengobatan.

WHO juga mendesak peningkatan penelitian mengenai demensia, bukan hanya untuk menemukan obatnya, tapi juga dalam bidang pencegahan, pengurangan risiko, diagnosis, perawatan dan pengobatan.


Sumber :
http://kelanakota.suarasurabaya.net/news/2017/196724-Penderita-Demensia-Diproyeksikan-Berlipat-Tiga-dalam-30-Tahun

Tuesday, October 31, 2017

6 Cara Mudah Cegah Pikun di Usia Muda

Pernah lupa menaruh kunci? lupa password telepon atau sulit mengingat tanggal ulang tahun orangtua atau pasangan. Jika pernah mengalaminya, Anda tidak sendiri. Sebab setiap hari, otak manusia kehilangan ribuan sel sehingga kita semua berisiko pikun.

Meski begitu jangan senang dulu karena seiring bertambahnya usia, pikun sering dikaitkan dengan gejala demensia alzheimer. Mengerikan, bukan? Tapi tidak perlu cemas, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah penurunan kerusakan otak.

Apa saja yang perlu dilakukan? simak ulasannya, seperti dikutip Mirror, Senin (4/5/2015) berikut ini:



1. Jangan mengandalkan teknologi

Cobalah jangan terlalu banyak mengandalkan teknologi. Perangkat teknologi memang memudahkan, tapi kalau hanya sekedar mengingat nama negara, tempat atau bahkan menghitung, sesekali hindari teknologi.

Psikolog dari Goldsmiths University, Patrick Fagan mengatakan, teknologi bisa mengubah bentuk otak kita, termasuk mengubah fungsinya. "Teknologi membuat manusia manja dan saya khawatir pada generasi mendatang," katanya.


2. Aktivitas fisik

Olahraga bisa meningkatkan kekuatan otak Anda. Tak percaya? sebuah studi oleh University of Georgia menemukan, sedikit latihan aerobik 20 menit sehari saja sudah cukup meningkatkan kesehatan otak.

"Latihan fisik memiliki efek besar pada kognisi Anda. Selain membuat tubuh sehat dan meningkatkan sirkulasi, olahraga juga membantu Anda mendapatkan oksigen lebih baik," kata neuro-psikolog, Dr Ashok Jansari.

Aktivitas fisik tak hanya olahraga, Jansari juga mengatakan untuk menari. "Jika sulit olahraga, menarilah. keduanya sangat baik dalam pelepasan hormon serotonin yang penting untuk kesehatan otak.


3. Bersosialisasi

Sebuah penelitian dari PLOS Medicine menemukan, orang-orang yang kesepian berisiko dua kali lipat terkena demensia. Untuk itu, kata Jansari, bersosialisasi adalah kuncinya.

"Bersosialisasi bisa merangsang otak, termasuk meningkatkan fungsi kognitif seperti menalar, intuisi, berpikir dan merasakan sesuatu. Selain itu, berteman juga membantu menciptakan cadangan sel-sel otak," katanya.


4. Bermain scrabble

Tahun lalu, 73 psikolog terkemuka dan ahli saraf mengklaim permainan kata seperti scrabble dapat meningkatkan kesehatan kognitif.


5. Tidur

Selain tidur 8 jam semalam, penelitian terbaru dari University of California menunjukkan bahwa tidur siang selama 10 menit saja bisa melawan degenerasi otak.


6. Belajar memainkan alat musik atau berbicara bahasa baru

"Musik memiliki efek yang luar biasa bagi otak. Belajar memainkan alat musik tidak hanya meningkatkan kemampuan musik Anda, tetapi juga kemampuan verbal dan visual. Anak-anak yang memainkan alat musik memiliki IQ yang lebih tinggi," kata Jansari.

Jika Anda tidak bisa memainkan alat musi, maka belajarlah bahasa baru. Cara ini juga memiliki efek yang sama. Sebuah studi dari University of Edinburgh menunjukkan, belajar bahasa baru dapat menunda demensia.


Sumber :
https://www.liputan6.com/health/read/2225360/6-cara-mudah-cegah-pikun-di-usia-muda

Related Posts