Pages

Tuesday, September 14, 2021

Pikun Digital

Makin Banyak Orang Sakit "Pikun Digital"

24/06/2013, 17:17 WIB 

Istilah "digital dementia" mungkin belum akrab di telinga. Tetapi mereka yang mengalami penyakit ini terus mengalami peningkatan seiring perubahan gaya hidup akibat perkembangan teknologi. Seperti dilansir surat kabar JoongAng Daily , para ahli kesehatan di Korea Selatan melaporkan peningkatan jumlah kasus kepikunan yang disebabkan ketergantungan pada gadget dan barang elektronik. 

Penyakit yang disebut "digital dementia" atau kepikunan digital saat ini melanda kaum muda yang kecanduan berat pada gadget atau barang digital lainnya. Kecanduan membuat mereka tak mampu lagi mengingat hal-hal detil dalam kehidupan sehari-hari semisal nomor ponsel pribadi. 

Korsel merupakan salah satu negara dengan koneksi digital paling baik di dunia saat ini. Namun  negara ini juga mengalami dampak buruknya seperti munculnya masalah kecanduan internet di kalangan dewasa dan anak-anak. 

Negara Ginseng ini juga tengah menghadapi ancaman kasus demensia digital di usia muda. Digital demenita  (istilah yang dipopulerkan di Korsel) merupakan penurunan kemampuan kognitif yang sebenarnya lebih banyak muncul pada orang-orang yang mengalami cedera pada bagian kepala atau gangguan kejiwaan. 

"Penggunaan smartphones dan konsol game berlebihan bisa mengganggu keseimbangan perkembangan otak," kata Byun Gi-won, seorang dokter yang berpraktik di Balance Brain Centre Seoul. 

"Pengguna berat cenderung hanya mengembangkan bagian otak kirinya, sehingga otak kanannya tidak tersentuh atau tidak berkembang," ujarnya. Otak kanan manusia berhubungan dengan daya konsentrasi. Apabila bagian otak ini gagal berkembang, dapat mempengaruhi perhatian dan daya ingat, di mana sebanyak 15 persen kasus dapat menyebabkan terjadinya demensia di usia dini. 

Mereka yang mengalami "kecanduan" ini juga dilaporkan menderita keterbelakangan dalam perkembangan emosi.  Anak-anak berisiko lebih besar mengalaminya ketimbang orang dewasa karena otaknya masih dalam proses pertumbuhan. 

Menurut para dokter di Korsel, kondisinya saat ini lebih memburuk karena persentase anak berusia 10 -19 tahun yang menggunakan smartphone lebih dari 7 jam sehari mengalami kenaikan hingga 18,4 persen. 

Angka ini meningkat dari hanya 7 persen tahun lalu. Lebih dari 67 persen warga Korsel saat ini memiliki smartphone, atau tercatat sebagai yang tertinggi di dunia . Ironisnya, 64 persen pemilik smartphone ini adalah remaja.  

Angkanya melonjak tajam dari hanya 21,4 persen pada 2011, menurut data Kementerian Ilmu, ICT dan Perencanaan Masa Depan Korsel Dr Manfred Spitzer, salah seorang pakar ilmu saraf Jerman, yang mempublikasikan buku berjudul "Digital Dementia" pada 2012 pernah memperingatkan para orang tua dan guru akan bahaya  gadget.  

Penggunaan ponsel, laptop atau konsol game secara berlebihan di usia dini dapat mengancam perkembangan jiwa mereka di kemudian hari. Dr Spitzer mengingatkan bahwa defisit atau atau kegagalan dalam perkembangan otak bersifat permanen. Ia bahkan meminta kepada pemerintah Jerman menerapkan larangan penggunaan media digital  dalam pengajaran anak-anak di sekolah karena khawatir akan kecanduan. 


Sumber :

https://health.kompas.com/read/2013/06/24/1717056/Makin.Banyak.Orang.Sakit.Pikun.Digital..

Wednesday, September 8, 2021

Tanda-Tanda Pikun Dini

6 Tanda-Tanda Pikun Dini yang Perlu Diwaspadai, Salah Satunya Bersikap Apatis

Sabtu, 28 Agustus 2021

Pikun atau demensia merupakan istilah dari gejala yang muncul dan memengaruhi fungsi kognitif seseorang, seperti kemampuan berpikir, mengingat, dan berlogika yang baik.

Kondisi ini makin memburuk dari waktu ke waktu, sehingga penting untuk menyadari gejala pikun dini supaya bisa melakukan pencegahan yang tepat. Pikun atau demensia dini terjadi umumnya karena ada faktor psikologis dan stres.

Pada beberapa orang juga bisa disebabkan oleh gangguan autoimun yang menyerang otak. Selanjutnya akan dijelaskan tentang beberapa ciri pikun dini yang muncul tanpa disadari.

Yuk, simak ulasan lebih lanjutnya, Kids.

Orang yang mulai menunjukkan gejala pikun dini biasanya mudah melupakan banyak hal atau memori.rawpixel.com Orang yang mulai menunjukkan gejala pikun dini biasanya mudah melupakan banyak hal atau memori.


1. Mudah Lupa

Berkurangnya daya ingat juga menjadi salah satu ciri seseorang mengalami kepikunan dini.

Kondisi ini membuat kamu mudah melupakan sesuatu seperti informasi baru atau informasi penting yang tersimpan dalam otak, seperti tanggal atau suatu tempat.


2. Sering salah lokasi dan waktu

Kamu cenderung mudah lupa arah dan hari. Orang yang mengalami pikun dini biasanya sangat sering memiliki gejala ini.

Mereka sering keliru menyebut nama tempat atau bahkan peristiwa.

Kadang orang-orang ini juga mengalami kesulitan mengingat di mana dia sekarang dan bagaimana caranya bisa berada di tempat tersebut.


3. Apatis

Gejala lain dari pikun dini adalah sikap apatis.

Hal ini bisa ditandai dengan mulai hilangnya minatmu pada hobi atau aktivitas yang biasanya kamu sukai.

Kamu juga kehilangan keinginan untuk bersosialisasi dengan orang lain, tanpa sadar kamu berubah menjadi pribadi yang antisosial.


4. Enggak bisa mengambil keputusan

Orang yang mengalami pikun dini akan mengalami kesulitan ketika harus menentukan pilihan yang lebih rasional.

Bahkan ada kecenderungan untuk membeli banyak barang yang sebenarnya enggak kamu perlukan.

Untuk hal sepele sekalipun, kamu menemukan kesulitan untuk mengambil sikap, terkadang juga mulai kurang memperhatikan kebersihan dan kerapihan diri sendiri.


5. Berusaha keras untuk beradaptasi di lingkungan baru

Ketika memiliki gejala pikun dini, mulai kesulitan untuk mengenali dan mengingat nama orang atau bahkan mengikuti intruksi atau pesan yang diberikan kepadanya.

Karena cenderung kesulitan untuk memulai hal baru, ini menjelaskan kenapa kamu menyukai hal-hal yang dianggap membosankan bagi orang lain.


6. Hilang inisiatif

Kamu berubah jadi pribadi pasif yang suka melakukan hal sama untuk waktu yang lama.

Kamu merasa duduk tanpa melakukan apa-apa menjadi hal yang menyenangkan, hal ini bisa jadi tanda atau gejala bahwa kamu mulai terjangkit pikun dini.


Sumber :

https://kids.grid.id/read/472861548/6-tanda-tanda-pikun-dini-yang-perlu-diwaspadai-salah-satunya-bersikap-apatis?page=all

Thursday, January 28, 2021

Dampak Kurang Tidur Jadi Pikun

Dampak Kurang Tidur: Dari Cepat Pikun Sampai Depresi 

Kurang tidur bukan lagi fenomena baru yang dialami masyarakat modern. Bahkan mungkin Anda sendiri juga habis begadang semalam, entah karena kerja lembur atau bersenang-senang. 

Tapi awas. Akibat kurang tidur tidak hanya membuat Anda jadi lesu dan mengantuk sepanjang hari, fungsi otak juga ikut merosot tajam sehingga dapat memicu munculnya beragam masalah kesehatan mental. 

Apa saja masalah kejiwaan yang mungkin terjadi akibat kurang tidur? 

1. Otak jadi lambat 

Para peneliti telah menemukan bahwa akibat kurang tidur dapat menyebabkan kewaspadaan dan konsentrasi otak menurun. Tak heran jika setelah berjam-jam (atau bahkan berhari-hari) tidak tidur nyenyak, Anda jadi suka bingung sendiri, gampang lupa, dan sulit berpikir jernih. 

Dalam dunia medis, kondisi gangguan berpikir akibat otak yang kelelahan ini sering disebut sebagai brain fog. Tapi Anda mungkin lebih familiar dengan istilah lemot. Otak yang lemot membuat Anda kesulitan mengambil keputusan penting. 

Meski terkesan sepele, brain fog ini tidak boleh disepelekan karena bisa jadi merupakan gejala awal dari penyakit demensia. 


2. Gampang lupa Ketika Anda mengantuk, 

Anda cenderung gampang lupa. Selain karena konsentrasi dan fokus otak yang memburuk, akibat kurang tidur, ingatan juga perlahan memburuk. Pasalnya selama Anda tidur, saraf-saraf dalam otak yang menyimpan ingatan punya kesempatan memperbaiki diri. 

Seorang ahli dari Fakultas Kedokteran Universitas Maryland di Amerika Serikat (AS), dr. Avelino Verceles, mengatakan, “Saat tidur, otak merekam berbagai hal yang telah kita pelajari dan alami seharian ke dalam ingatan jangka pendek.” 

(Itu sebabnya Anda juga tidak boleh pergi tidur dalam keadaaan marah) 


3. Sulit menerima informasi baru 

Kurang tidur bisa memengaruhi kemampuan Anda untuk memahami informasi baru lewat dua cara. Pertama, Anda akan menjadi tidak fokus sehingga sulit untuk menerima informasi baru. Dengan begitu, Anda tidak dapat belajar dengan efisien. 

Kedua, seperti yang telah disebutkan di atas, kurang tidur berdampak pada kemampuan mengingat. Daya ingat yang lemah akan mempersulit Anda untuk menyimpan informasi baru yang Anda pelajari ke dalam ingatan. 


4. Memicu penyakit mental 

Kurang tidur memang bukan penyebab langsung dari gangguan kejiwaan. Meskipun begitu, beragam penelitian menemukan adanya potensi besar kemunculan beberapa penyakit mental, seperti depresi, ADHD, gangguan kecemasan, dan gangguan bipolar sebagai akibat kurang tidur. 

Sebuah penelitian di Michigan, AS, mengamati seribu orang berusia 21 hingga 30 tahun. Hasilnya, mereka yang mengidap insomnia pada wawancara pertama memiliki risiko empat kali lebih besar menderita depresi ketika diwawancara lagi tiga tahun setelahnya. 

Studi lain menemukan bahwa masalah gangguan tidur terjadi sebelum munculnya depresi. Selain itu, penderita depresi yang mengalami insomnia akan lebih sulit disembuhkan dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami insomnia. 

Pada sebuah penelitian, para ahli menemukan bahwa insomnia dan gangguan tidur lainnya mungkin memperparah episode mania (manic) atau depresi (depressive) pada pasien dengan gangguan bipolar. Kurang tidur itu sendiri dipercaya dapat memicu episode mania, yaitu fase ledakan emosi atau perilaku yang tak terkendali. Akibat kurang tidur juga dapat memicu gangguan kecemasan. 

Satu studi melaporkan bahwa sekitar 27 persen pasien dengan gangguan kecemasan diawali dengan insomnia yang membuat seseorang susah tidur.


Sumber :

https://lifestyle.kompas.com/read/2017/09/07/175433920/dampak-kurang-tidur-dari-cepat-pikun-sampai-depresi?page=all#page2.

Sunday, September 20, 2020

Hobi yang Bisa Cegah Otak Jadi Mandek

Hobi Baru Ini Bisa Cegah Otak Jadi Mandek, Salah Satunya Main Game


Di tengah pandemi virus Corona yang belum tahu kapan berakhirnya, membuat orang-orang harus melakukan berbagai kegiatan di rumah. Mulai dari bekerja, sekolah, bahkan beribadah.

Bahkan dengan terus bertambahnya kasus, masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang sudah diterapkan saat ini semakin diperpanjang. Hal ini membuat pikiran serta ide yang kita punya jadi mandek alias terhambat.

Supaya otak kita tetap encer dalam mendapatkan ide-ide yang cemerlang, mungkin perlu melakukan berbagai kegiatan baru untuk menghindari kemungkinan pikun dini. Dikutip dari Life Hack, berikut 4 hobi baru yang bisa kamu coba di rumah.


1. Main game

Menurut penelitian yang dilakukan Leiden University, bermain game bisa mengembangkan working memory atau sebuah sistem di otak yang bertugas untuk menyimpan dan memproses informasi. Baik yang baru maupun sudah lampau.

Selain itu, hasil riset dari Charite pada 2013 mengatakan bermain game juga bisa memperbaiki performa navigasi ruang, perencanaan strategis, dan performa motorik. Jika dilakukan selama 30 menit sehari, bisa meningkatkan gray matter di otak yang menjadi pusat saraf.

Tapi perlu diingat, game yang dimaksud ini adalah permainan yang memacu otak untuk berpikir dan memecahkan masalah, seperti teka-teki silang, puzzle, rubik, dan sebagainya.


2. Main musik

Berdasarkan penelitian Boston Children's Hospital, anak-anak yang bisa bermain alat musik mengalami peningkatan kemampuan verbal, seperti berbicara lebih cepat dan lancar.

Selain itu, penelitian lain menyebutkan musik meningkatkan fungsi kognitif memori, pemecahan masalah, serta pengenalan pola. Efek tersebut juga berpengaruh pada orang-orang di usia dewasa, setengah baya, dan tua.

Bermain alat musik juga mempengaruhi kecepatan otak dalam memproses informasi, yang berguna saat belajar, bekerja, atau kegiatan lain yang menuntut otak berpikir.


3. Banyak baca

Membaca bisa meningkatkan konektivitas di korteks temporal kiri otak, yaitu bagian yang berhubungan dengan penyerapan informasi. Hal ini bisa terjadi karena aktivitas tersebut merangsang pertumbuhan jalur saraf baru.

Dengan membaca juga bisa melenturkan bagian otak yang berurusan dengan pemecahan masalah, melihat pola, dan menafsirkan perkataan orang lain. Baca apa yang kamu sukai agar otak tetap berenergi, termasuk komik dan bacaan ringan lainnya.


4. Olahraga

Kegiatan dengan sejuta manfaat ini ternyata juga bisa meningkatkan daya ingat otak terhadap objek. Menurut penelitian Dartmouth College, rutin olahraga bisa membuat otak menghasilkan suatu zat protein bernama Brain Derived Neurotrophic Factor (BDNF) dalam aliran darah.

Artinya, saat darah mengalir melalui otak, sel-sel yang menyerap protein ini bertanggung jawab untuk meningkatkan memori dan fokus. Selain itu, BDNF juga berpengaruh untuk mempertajam daya ingat. Caranya bisa dengan berenang, bersepeda, atau jogging.


Sumber :

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5025338/hobi-baru-ini-bisa-cegah-otak-jadi-mandek-salah-satunya-main-game

Tuesday, November 5, 2019

Berusia 100 Tahun dan Belum Pikun

Ini Rahasia Tetap Sehat Mak Iyah dari Cianjur


Kompas.com - 06/11/2019

Rukiyah alias Mak Iyah, lansia asal Kabupaten Cianjur, Jawa Barat hidup sebatang kara di gubuk reyot di areal kebun sayur di di Kampung Pasir Baing, RT 005/003 Desa Sukatani, Kecamatan Pacet. Mak Iyah mengaku usianya sudah 100 tahun.

Namun ia lupa di mana menyimpan KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan KK (Kartu Keluarga), “Umur emak mah sudah seratus tahun,” ucap Mak Iyah saat ditemui Kompas.com di gubuk reyotnya, Sabtu (02/11/2019).

Meski sudah berusia seabad, namun ia masih sanggup berjalan kendati pelan dan sesekali harus berhenti.

Gigi-giginya masih tampak di antara kulit wajahnya yang sudah mengeriput. Selain itu, Mak Iyah belum terlihat pikun. Ia masih mampu menjawab pertanyaan yang diajukan. Kendati untuk berkomunikasi dengannya harus menaikkan volume suara ditambah isyarat tangan. Pasalnya, sudah lama mak Iyah mengalami gangguan pendengaran.

Mak Iyah Sering Digigit Serangga dan Pernah Dipatuk Ular Rahasia Mak Iyah Mak Iyah menceritakan sepanjang hidupnya selalu mengonsumsi sayuran mentah alias lalapan. Ia mengaku belum pernah diterjang sakit yang terbilang parah.

“Paling batuk, panas sama meriang. Mak mah suka makan lalab (sayuran mentah) tiap hari. Kalau tidak ada makanan, mak makan itu saja,” ujarnya. Sebelum tubuhnya ringkih seperti sekarang ini, ia pernah menjadi buruh perkebunan.

Namun karena usianya yang terus menua, Mak Iyah kini sudah tak sanggup lagi bekerja. "Tos teu tiasa barang damel (sudah tidak bisa bekerja), kieu we di saung (diam saja di rumah)," ucapnya.

Pengakuan Mak Iyah soal usianya yang sudah seabad itu dibenarkan kerabat dan tetangga setempat. "Usianya sekitar 100 tahunan," tutur Erah (65) kerabat terdekat Mak Iyah kepada Kompas.com, Sabtu (02/11/2019).

"Soalnya memang Mak Iyah sudah sangat tua, sejak zaman ibu saya juga sudah ada. Mak Iyah orang asli sini,” lanjutnya.  “Waktu ada pendataan juga disebutkan usianya segitu (100 tahun),” sahut warga yang lain.

Hidup sebatang kara Erah menceritakan, dulunya mak Iyah tinggal bersama suaminya, Uko. Namun sang suami meninggal dunia karena sakit menahun. “Sudah 30 tahun mak Iyah ditinggal suaminya. Kalau anaknya meninggal saat dilahirkan.

Jadi, Mak Iyah ini tidak punya anak,” ucapnya. Sebelum jari-jari tangannya yang sebelah kanan mati rasa akibat dipatuk ular, Mak Iyah pernah bekerja di kebun. “Jari tangannya memang pernah digigit ular. Saya sendiri yang bawa ke dokternya untuk diobati," tutur Erah.

"Alhamdulilah bisa sembuh, tapi jari-jarinya jadi merengkel (bengkok) sehingga sudah tidak bisa digerakkan.”  Selain itu, kondisi fisik yang terus menua membuat Mak Iyah tak mungkin lagi bekerja untuk mencari nafkah.

“Sejak tidak bekerja, untuk kebutuhan sehari-hari dibantu warga," lanjut Erah.  "Ada yang ngasih beras, nasi, makanan, yang sedekah uang juga ada. Warga juga suka ada yang berkunjung ke sini (rumah Mak Iyah) untuk melihat kondisinya.”

Berharap mendapat bantuan Sebelumnya diberitakan, seorang perempuan lansia di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat hidup memprihatinkan di gubuk reyot di Kampung Pasir Baing, RT 005/003 Desa Sukatani, Kecamatan Pacet. Rukiyah atau biasa dipanggil Mak Iyah tinggal sebatang kara di rumah tak layak huni dengan kondisi hampir ambruk di areal kebun sayuran.

Warga setempat, Aripin (50) berharap, pemerintah daerah maupun pemerintah desa mau mengulurkan bantuan atas kondisi kehidupan Mak Iyah. Sepengetahuannya, belum ada bantuan dari program pemerintah, seperti PKH dan rastra. Untuk makan sehari-hari, mak Iyah dibantu tetangga dan warga sekitar. Ia berharap pemerintah mau peduli kepada warga seperti Mak Iyah yang sangat membutuhkan perbaikan rumah agar bisa hidup dengan rasa aman dan nyaman.


Sumber :
https://regional.kompas.com/read/2019/11/06/11054191/berusia-100-tahun-dan-belum-pikun-ini-rahasia-tetap-sehat-mak-iyah-dari?page=all#page2.

Friday, October 4, 2019

Dementia, Gets Memory Back After Changing Diet

82-Year-Old Woman With Dementia Gets Her Memory Back After Changing Her Diet
Published 1 year ago on April 27, 2018By Alanna Ketler

Recently, an 82-year-old woman who suffered from dementia, who couldn’t recognize her own son has miraculously got her memory back after changing her diet.

When his mother’s condition became so severe that for her own safety she had to be kept in the hospital, Mark Hatzer almost came to terms with losing another parent.

Sylvia had lost her memory and parts of her mind, she had even phoned the police once accusing the nurse who were caring for her of kidnap.

A change in diet, which was comprised of high amounts of blueberries and walnuts, has proven to have had a strong impact on Sylvia’s condition that her recipes are now being shared by the Alzheimer’s Society.

Sylvia also began incorporating other health foods, including broccoli, kale, spinach, sunflower seeds, green tea, oats, sweet potatoes and even dark chocolate with a high percentage of cacao. All of these foods are known to be beneficial for brain health.

Mark and Sylvia devised to diet together after deciding that the medication on its own was not enough, they looked into the research showing that rates of dementia are much lower in Mediterranean countries and copied a lot of their eating habits.

Mark, whose brother Brent also died in 1977, said: “When my mum was in hospital she thought it was a hotel – but the worst one she had ever been in.

“She didn’t recognise me and phoned the police as she thought she’d been kidnapped.

“Since my dad and brother died we have always been a very close little family unit, just me and my mum, so for her to not know who I was was devastating.

“We were a double act that went everywhere together. I despaired and never felt so alone as I had no other family to turn to.

“Overnight we went from a happy family to one in crisis.

“When she left hospital, instead of prescribed medication we thought we’d perhaps try alternative treatment.

“In certain countries Alzheimer’s is virtually unheard of because of their diet.

“Everyone knows about fish but there is also blueberries, strawberries, Brazil nuts and walnuts – these are apparently shaped like a brain to give us a sign that they are good for the brain.”

There were also some cognitive exercises that Mark and his mother would do together like jigsaw puzzles crosswords and meeting people in social situations, Sylvia would also exercise by using a pedaling device outfitted for her chair.

Mark said, “It wasn’t an overnight miracle, but after a couple of months she began remembering things like birthdays and was becoming her old self again, more alert, more engaged..

“People think that once you get a diagnosis your life is at an end. You will have good and bad days, but it doesn’t have to be the end. For an 82-year-old she does very well, she looks 10 years younger and if you met her you would not know she had gone through all of this.

“She had to have help with all sorts of things, now she is turning it around. We are living to the older age in this country, but we are not necessarily living healthier.”

The Body’s Ability To Heal Is Greater Than Anyone Has Permitted You To Believe
This story just goes to show how resilient our bodies really are if given the right environment. Most of these types of diseases are often related to diet in the first place so that means that they can indeed be reversed with a proper diet. Sure, some of them are genetic and you might be a carrier of the gene, but that is not a guarantee that it will become active, there are things you can do to minimize the risk. Our health is our greatest wealth. We have to realize that we do have a say in our lives and what our fate is.

We have covered the topic before of how aluminum build up in the brain is directly related to dementia and more specifically Alzheimer’s disease, being able to identify this as a cause is important because recognizing this means we can do our part to limit the exposure and to also detoxify our brains and bodies from this damaging heavy metal.

In an article titled, Strong evidence linking Aluminum to Alzheimer’s, recently published in The Hippocratic Post website, Exley explained that:

“We already know that the aluminium content of brain tissue in late-onset or sporadic Alzheimer’s disease is significantly higher than is found in age-matched controls. So, individuals who develop Alzheimer’s disease in their late sixties and older also accumulate more aluminium in their brain tissue than individuals of the same age without the disease.

Even higher levels of aluminium have been found in the brains of individuals, diagnosed with an early-onset form of sporadic (usually late onset) Alzheimer’s disease, who have experienced an unusually high exposure to aluminium through the environment (e.g. Camelford) or through their workplace. This means that Alzheimer’s disease has a much earlier age of onset, for example, fifties or early sixties, in individuals who have been exposed to unusually high levels of aluminium in their everyday lives.”

His most recent study, published by the Journal of Trace Elements in Medicine and Biology in December 2016, titled: Aluminium in brain tissue in familial Alzheimer’s disease, is one of the many studies that he and his team have conducted on the subject of aluminum over the years. However, this study in particular is believed to be of significant value, because it is the first time that scientists have measured the level of aluminum in the brain tissue of individuals diagnosed with familial Alzheimer’s disease. (Alzheimer’s disease or AD is considered to be familial if two or more people in a family suffer from the disease.)

According to their paper, the concentrations of aluminum found in brain tissue donated by individuals who died with a diagnosis of familial AD, was the highest level ever measured in human brain tissue.

Professor Exley wrote:

“We now show that some of the highest levels of aluminium ever measured in human brain tissue are found in individuals who have died with a diagnosis of familial Alzheimer’s disease.

The levels of aluminium in brain tissue from individuals with familial Alzheimer’s disease are similar to those recorded in individuals who died of an aluminium-induced encephalopathy while undergoing renal dialysis.”

He explained that:

“Familial Alzheimer’s disease is an early-onset form of the disease with first symptoms occurring as early as 30 or 40 years of age. It is extremely rare, perhaps 2-3% of all cases of Alzheimer’s disease. Its bases are genetic mutations associated with a protein called amyloid-beta, a protein which has been heavily linked with the cause of all forms of Alzheimer’s disease.

Individuals with familial Alzheimer’s disease produce more amyloid beta and the onset of the symptoms of Alzheimer’s disease are much earlier in life.”


Sumber :
https://www.collective-evolution.com/2018/04/27/82-year-old-woman-with-dementia-gets-her-memory-back-after-changing-her-diet/?fbclid=IwAR0lAWwfK5RQJy8yGPmWjfcS7rc_pWYJGAXbmyfol6k5mRb1fOGqnMe5QV4

Sunday, September 22, 2019

Demensia Adalah Bagian Normal dari Penuaan?

Survei: Dua dari Tiga Orang di Dunia Berpikir Demensia Adalah Bagian Normal dari Penuaan


Hasil dari survei tentang sikap dan perilaku umum terhadap demensia mengungkapkan kurangnya pengetahuan global tentang penyakit Alzheimer. Hal ini disebabkan karena dua pertiga orang masih berpikir bahwa demensia adalah bagian normal dari penuaan daripada gangguan neuro-degeneratif.

Laporan Alzheimer's Disease International (ADI) yang diberi judul: Attitudes to Dementia  juga menandai Hari Alzheimer Sedunia. Laporan ini mengungkapkan hasil dari survei terbesar yang pernah dilakukan di dunia mengenai sikap dan perilaku umum terhadap demensia melibatkan sekitar 70.000 orang dari 155 negara dan wilayah. Analisis data dilakukan oleh London School of Economics dan Political Science (LSE) UK, mitra dari Alzheimer’s Disease International.

Survei ini mengungkapkan bahwa stigma seputar demensia menghalangi publik untuk tidak segera mencari informasi, saran, dukungan, dan bantuan medis. Padahal hal tersebut dapat secara dramatis meningkatkan kualitas hidup mereka dari demensia, salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia.

Saat ini, jumlah Orang Dengan Demensia (ODD) diperkirakan sekitar lebih dari 50 juta dan akan meningkat menjadi 152 juta di tahun 2050. Ada sekitar 23 juta orang dengan demensia di Asia Pasifik, 1.2 juta di Indonesia dan akan menjadi 4 juta pada tahun 2050.

Laporan tersebut mengungkapkan sikap seputar demensia. Responden dari survei tersebut adalah Orang Dengan Demensia (ODD), family caregivers, perawat, praktisi kesehatan dan masyarakat umum.

Salah satu hasil yang mengkhawatirkan adalah masih berapa banyaknya orang di seluruh dunia yang berpikir bahwa demensia adalah bagian alami dari proses penuaan. 48% responden percaya seseorang dengan demensia tidak akan pernah membaik ingatannya, bahkan dengan dukungan medis, sementara satu dari empat orang berpikir tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah demensia.

Ini merupakan hambatan utama bagi orang yang ingin mengakses bantuan, saran dan dukungan. Stigma serupa juga berhubungan dengan masalah kesehatan mental, yang berfokus pada usia, berdasarkan kurangnya perawatan medis yang tersedia. Maka dari itu masyarakat perlu membuka diri dengan berdiskusi dan menghilangkan stigma agar kita dapat meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan Demensia dan keluarganya.

Pimpinan Alzheimer’s Disease International (CEO) Paola Barbarino mengatakan: "Stigma adalah penghalang terbesar yang membatasi orang di seluruh dunia dari peningkatan kualitas hidup Orang Dengan Demensia. Konsekuensi dari stigma adalah tiga hal yang sangat penting untuk dipahami.

Di tingkat individu, stigma dapat merusak tujuan hidup dan mengurangi partisipasi dalam kegiatan kehidupan yang bermakna dan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah dan kehidupan yang berkualitas.

Di tingkat masyarakat, stigma struktural dan diskriminasi dapat memengaruhi tingkat pendanaan yang dialokasikan untuk perawatan dan dukungan. Saat ini terdapat sangat sedikit informasi tentang bagaimana stigma bermanifestasi dalam kaitannya dengan Orang Dengan Demensia dan bagaimana hal ini dapat bervariasi di seluruh dunia.

Dengan adanya survei dan laporan terperinci ini  memberi kita dasar informasi untuk stigma terkait demensia di tingkat global, regional dan nasional dan kami berharap temuan ini dapat memulai reformasi positif di level global."

Laporan itu juga menemukan bahwa sekitar 50% Orang Dengan Demensia merasa diabaikan oleh para praktisi kesehatan (dokter dan perawat) sementara 33% orang berpikir bahwa jika mereka terkena demensia, mereka tidak akan didengarkan oleh para praktisi profesional kesehatan maupun dokter.

Menariknya, 95% responden berpikir bahwa mereka dapat terkena demensia dalam hidupnya dan lebih dari dua pertiga orang (69,3 persen) akan mengambil tes profil genetik untuk mengetahui apakah mereka berisiko terkena demensia. Sementara itu, dua dari tiga orang masih berpikir demensia adalah bagian alami dari penuaan.

Rasa takut terkena demensia juga tinggi secara global, tetapi pemahaman sebenarnya tentang penyakit ini rendah. Ini mengkhawatirkan, karena Demensia dan Alzheimer merupakan penyebab kematian nomor 5 di dunia.

ADI meluncurkan kampanye globalnya “Let's Talk About Dementia” bersama 100 anggotanya di seluruh dunia termasuk Alzheimer Indonesia pada tanggal 1 September untuk menandai awal dari bulan kesadaran mengenai Demensia. Kampanye ini didasarkan pada pemahaman bahwa berbicara tentang demensia membantu mengatasi stigma, menormalkan situasi, dan memotivasi orang untuk mencari tahu lebih banyak, mencari bantuan, saran, dan dukungan.

Dengan sekitar 250 juta penduduk di Indonesia, ada sekitar 20 juta orang lanjut usia (60 tahun ke atas) dan 1.2 juta Orang Dengan Demensia (berdasarkan data Alzheimer's DIsease International, 2017). Setiap 3 detik seseorang di dunia terkena demensia tetapi kebanyakan orang dengan demensia tidak menerima diagnosis atau dukungan.

Hal ini akan membebani ekonomi seiring dengan meningkatnya biaya demensia sekitar US $ 1 triliun - angka yang ditetapkan dua kali lipat pada tahun 2030. Di Indonesia sendiri, biaya demensia adalah US $ 2 miliar (Alzheimer’s Disease International, 2017). Kematian karena demensia meningkat lebih dari dua kali lipat antara tahun 2000 dan 2016, menjadikannya penyebab utama ke-5 kematian global pada tahun 2016 dibandingkan dengan ke-14 pada tahun 2000.

Kampanye "Ayo Bicara Tentang Demensia" bertujuan untuk merangsang percakapan tentang demensia, memahami gejalanya, faktor risiko, siapa yang harus ditanya dan ke mana harus meminta nasihat. Kurangnya pengetahuan tentang demensia menyebabkan asumsi yang tidak akurat tentang dampaknya yang sangat fatal pada orang dan keluarga mereka, serta stereotip negatif tentang bagaimana seseorang dengan demensia akan berperilaku.

Bukti menunjukkan, bahwa ketika Orang Dengan Demensia dan keluarga pendamping mereka dipersiapkan dengan baik dan mendapat dukungan penuh, perasaan kaget, kemarahan, dan kesedihan akan diimbangi oleh rasa tenteram dan terberdayakan.

Di Indonesia, selain dialog ini diadakan serentak dengan melakukan 65 kegiatan di 20 kota, salah satunya adalah dengan dihadirkannya Centre of Excellence Demensia sebagai bentuk kerjasama ALZI dengan Unika Atma Jaya.

Selain itu juga ada acara peluncuran buku A to Z Alzheimer - penanganan gangguan perilaku pada Orang Dengan Demensia karya Dr. dr. Yuda Turana SpS dan DY Suharya. ALZI berharap dengan diluncurkannya buku ini pemahaman publik semakin meningkat demi tercapainya peningkatan kualitas hidup ODD dan keluarganya.(*)


Sumber :
https://www.hariansuara.com/news/kesehatan/16689/survei-dua-dari-tiga-orang-di-dunia-berpikir-demensia-adalah-bagian-normal-dari-penuaan

Related Posts