Pages

Friday, February 17, 2023

Muda tapi Pelupa

Usia Muda tapi Sering Lupa, Waspadai Penyebabnya

Mudah lupa identik dengan usai senja. Kondisi ini bisa jadi karena berkurangnya fungsi hipokampus atau bagian otak untuk mengingat. Tapi, ada kalanya seseorang menjadi mudah lupa kendati usianya masih muda. Lalu, Apa penyebab mudah lupa usia muda ini?

Mungkin Anda sering lupa meletakkan barang, lupa mengingat nama orang yang baru Anda temui, atau lupa bahwa Anda memiliki jadwal pertemuan. Lupa adalah hal alami dan wajar. Menurut penelitian, otak hanya mampu mengingat 7 informasi dalam jangka pendek kurang dari 30 detik. Tetapi, jika terlalu mudah lupa di usia 20 hingga 30-an, mungkin Anda perlu mempertimbangkan kembali kesehatan Anda secara keseluruhan.


Penyebab Sering Lupa di Usia Muda

Berikut beberapa alasan yang dapat menyebabkan mudah lupa di usia muda, dirangkum dari berbagai sumber:


1. Kurang tidur

Dikutip dari Firstpost, kurang tidur dapat dengan mudah menyebabkan perubahan suasana hati dan kecemasan. Suasana hati yang tidak baik dan cemas mempengaruhi ingatan menjadi buruk. Kurang tidur juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan diabetes, yang mana dapat memicu penyempitan pembuluh darah. Kondisi ini membatasi aliran darah otak sehingga mempengaruhi kemampuan mengingat.


2. Hipotiroidisme

Ketika kelenjar tiroid berhenti melepaskan jumlah hormon tiroid yang dibutuhkan dalam tubuh, maka terjadilah hipotiroidisme. Orang dengan hipotiroidisme yang tidak terdiagnosis atau tidak diobati dapat mengalami masalah memori dan kesulitan berkonsentrasi. Alasannya, hipotiroidisme ternyata menyebabkan penurunan ukuran hipokampus. Kondisi ini dapat menjadi sebab mudah lupa di usia muda.


3. Demensia dini

Mengutip Mayo Clinic, penyebab seseorang mudah lupa adalah demensia. Kondisi ini ditandai dengan penurunan fungsi otak seperti hilangnya kemampuan mengingat dan daya pikir. Umumnya terjadi pada usia senja, namun dapat pula terjadi pada usia muda, disebut dimensia dini. Demensia biasanya dimulai secara bertahap, memburuk dari waktu ke waktu dan mengganggu kemampuan seseorang dalam pekerjaan, interaksi sosial dan hubungan.


4. Stres, cemas, dan depresi

Melansir everydayhealth.com, direktur Pusat Perawatan Memori dan Alzheimer di Johns Hopkins Medicine, Constantine Lyketsos mengatakan stres dan kecemasan yang signifikan dapat menyebabkan masalah perhatian dan memori. Klaim ini sejalan penelitian yang diterbitkan pada Mei 2022 di Frontiers in Psychiatry. Masalah ini umumnya terjadi pada orang yang mengalami tekanan atau tidak dapat tidur nyenyak.


5. Mengonsumsi obat-obatan

Menurut American Association of Retired Persons, beberapa jenis obat dapat mempengaruhi memori. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau AS memperingatkan bahwa obat penurun kolesterol, yang dikenal sebagai statin, dapat sedikit meningkatkan risiko efek samping kognitif yang dapat dibalik, termasuk kehilangan memori dan kebingungan.

Adapun jenis obat-obatan yang dapat menyebabkan mudah lupa yaitu obat anti-kecemasan antidepresan, antihistamin, obat anti kejang, obat tekanan darah, obat penghilang rasa sakit tertentu, obat penurun kolesterol, obat diabetes, obat untuk mengobati penyakit Parkinso, dan obat tidur.


6. Defisiensi nutrisi

Menurut Klinik Cleveland, defisiensi atau kekurangan nutrisi tertentu dapat menyebabkan mudah lupa di usia muda. Salah satu penyebab mudah lupa adalah kurangnya asupan vitamin B12. Vitamin ini penting untuk fungsi saraf normal. Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan kebingungan dan bahkan demensia. Berdasarkan National Institutes of Health, orang dewasa membutuhkan sekitar 2,4 mikrogram vitamin B12 per harinya. Nutrisi ini dapat diperoleh dengan mengonsumsi produk susu, daging, dan ikan.


7. Masalah pada otak

Kondisi lain yang dapat menyebabkan masalah mudah lupa di usia muda meliputi infeksi otak, cedera otak, dan tumor otak. Infeksi parah di sekitar otak, terutama jika tidak diobati, dapat menyebabkan masalah ingatan. Misalnya, beberapa orang dengan COVID-19 yang lama telah melaporkan kehilangan ingatan setelah infeksi.

Menurut Institut Nasional Gangguan Neurologis dan Stroke AS, cedera otak ringan dapat menyebabkan kebingungan dan masalah dengan memori serta konsentrasi. Selain itu, tumor otak dapat mempengaruhi kemampuan mengingat seseorang menurut National Brain Tumor Society. Selain itu, perawatan untuk tumor otak, seperti operasi otak, kemoterapi, atau terapi radiasi, juga dapat memengaruhi daya ingat pasien.


Sumber :

https://gaya.tempo.co/read/1651618/usia-muda-tapi-sering-lupa-waspadai-penyebabnya

Sunday, December 4, 2022

Olahraga untuk Lansia

Tips Olahraga untuk Lansia

Kaum lanjut usia (lansia) sudah mulai turun fungsi tubuhnya. Kemampuan geraknya pun menurun seiring bertambahnya usia. Lalu, apakah lansia ini boleh berolahraga?

Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga Sport Medicine, Injury & Recovery Center RS Pondok Indah – Bintaro Jaya, dr Antonius Andi Kurniawan, SpKO mengatakan lansia justru sangat disarankan untuk berolahraga rutin. Tak hanya bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh, lansia yang melakukan olahraga secara rutin juga dapat merasakan manfaat lain, yakni kualitas hidup lebih baik dan hati yang lebih bahagia.

"Meski usia sudah lanjut, olahraga rutin dan aktivitas fisik ada baiknya tidak ditinggalkan," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Ahad (16/10/2022).

Kurang bergerak atau jarang berolahraga dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan pada orang yang berusia lanjut, misalnya nyeri sendi dan otot, tekanan darah tinggi, pikun atau demensia, hingga diabetes. Selama berolahraga, tubuh akan melepaskan hormon endorfin yang dapat meningkatkan mood, dan membuat tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks. Hormon ini dapat mengurangi rasa sakit dan memberikan energi positif, yang berujung pada hati lebih bahagia.

Selain membuat hati lebih bahagia, lansia yang rutin berolahraga juga dapat merasakan berbagai manfaat pada kesehatan tubuh, antara lain memperkuat otot dan sendi, melancarkan peredaran darah, serta membantu mengendalikan penyakit komorbid yang sudah diderita, seperti penyakit jantung, diabetes mellitus, hiperlipidemia dan hipertensi.

Selain itu, bisa memperlambat keparahan sindrom geriatri, menjaga kesehatan dan fungsi otak sekaligus menurunkan risiko gangguan pada otak, seperti demensia. Olahraga juga bisa mengurangi stres dan risiko gangguan mental, seperti depresi.

Tak hanya itu, olahraga juga membantu mencegah obesitas. Porsi olahraga untuk lansia, sama seperti kaum usia produktif. "Lansia disarankan untuk tetap aktif bergerak dan rutin berolahraga setidaknya 150 menit per minggu atau minimal 30 menit setiap harinya."

Namun, meskipun tetap boleh melakukan olahraga favorit semasa muda, ada beberapa rambu-rambu yang perlu diperhatikan ketika lansia mau memulai berolahraga, yakni konsultasikan kondisi kesehatan dengan dokter yang merawat lansia sebelum memutuskan untuk mulai berolahraga. Hal ini untuk memastikan kembali bagaimana porsi olahraga yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing lansia.

"Para lansia yang sudah lama tidak berolahraga sebaiknya memulai olahraga perlahan dengan latihan yang ringan dan konstan," tambahnya.

Jangan lupa selalu lakukan pemanasan sebelum berolahraga dan pendinginan setelah berolahraga. Meskipun sederhana, tetapi kedua hal ini dapat membantu menyiapkan tubuh untuk berolahraga dan beristirahat, serta mengurangi risiko terjadinya cedera ketika berolahraga. "Lakukan olahraga ketika tubuh benar-benar bugar. Tidak perlu terlalu memaksakan diri," ujar dokter Antonius.

Ia menambahkan pertambahan usia membuat tubuh tidak sebugar ketika muda, maka lekas merasa lelah adalah hal yang wajar. Lakukan olahraga secara perlahan dengan kesadaran penuh akan kemampuan diri sendiri dan berhentilah ketika sudah merasa lelah.

"Melakukan latihan keseimbangan karena latihan keseimbangan sangat berguna untuk mencegah jatuh pada lansia. Belajarlah teknik yang benar dalam melakukan olahraga agar tidak terjadi cedera olahraga."


Sumber :

https://www.republika.co.id/berita/rjv99n430/tips-olahraga-untuk-lansia

Monday, February 21, 2022

Menghindari Pikun Sejak Dini

Mulai Lupa Ini dan Itu, Berikut 5 Tips Menghindari Pikun Sejak Dini

Sabtu, 1 Mei 2021 16:31 WIB

Kondisi pikun ini biasanya terjadi pada usia lebih dari 65 tahun. Tetapi, yang masi muda saat ini pun tidak dapat kita mungkiri bisa kena penyakit ini. Karena kepikunan ini terjadi karena beberapa faktor seperti stres, kelelahan, depresi, dan yang lainnya.

Namun, kepikunan tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena ada beberapa tips untuk untuk mencegah pikun tersebut. Berikut tips cara mengatasi pikun dari berbagai sumber:


1. Tidur yang cukup

Saat tidur, memori-memori dalam otak akan diperkuat. Dan sebaliknya, kurang tidur berpotensi meningkatkan risiko pikun. Tak hanya itu, tidur juga bisa menambah fokus dan atensi Anda. Jadi, tidurlah 7-9 jam per hari agar kekuatan otak kita tetap terjaga.


2. Lakukan olahraga dengan teratur

Olahraga bukan cuma bertujuan menjaga kesehatan tubuh. Latihan fisik ini juga dapat mencegah pikun dengan meningkatkan fungsi memori. Durasi olahraga yang disarankan adalah 150 menit per minggu untuk olahraga ringan dan 75 menit per minggu untuk olahraga berat.


3. Melakukan pola makan sehat

Mencegah pikun dapat dimulai dengan konsumsi makanan yang sehat. Kurangi konsumsi gula, alkohol, dan karbohidrat yang diproses (seperti kue, roti, dan sebagainya). Pasalnya. bahan-bahan ini dapat meningkatkan risiko pikun.

Tingkatkan konsumsi ikan, daging ayam, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Mengonsumsi suplemen dan makanan yang mengandung omega-3 juga dapat meningkatkan fungsi memori kita.


4. Mengisi TTS

TTS atu teka-teki silang adalah sebuah permainan mengasah otak yang sudah ada sejak lama. Tak sedikit orang yang bahkan mengoleksi permainan ini karena konsepnya yang menyenangkan. Ingatan, pengetahuan, logita dan konsentrasi akan terpacu dan terasah dalam permainan ini, sehingga bisa menyembuhkan penyakit demensia atau pikun secara perlahan.


5. Menghafal

Latihlah daya konsentrasi dengan cara membaca dan menghafal beberapa bacaan seperti buku, koran atau majalah. Dengan cara ini maka sel-sel dalam otak akan berkembang sehingga dapat meningkatkan sistem kerja otak agar lebih baik. Dengan membaca dan menghafal, tentu bisa mengurangi risiko pikun karena kemampuan konsentrasi terus dilatih sehingga menciptakan kondisi daya ingat yang prima.


Sumber :

https://gaya.tempo.co/read/1458338/mulai-lupa-ini-dan-itu-berikut-5-tips-menghindari-pikun-sejak-dini/full&view=ok

Wednesday, January 12, 2022

Sering Disamakan, Ini Perbedaan Mendasar Lupa dan Pikun

Lupa dan pikun adalah kondisi medis yang berbeda. Pikun disebut dokter, bukan gejala normal dari proses penuaan. Pikun merupakan kondisi menurunnya kemampuan berpikir secara drastis.

Dalam keseharian, orang yang lupa akan sesuatu kerap diledek dengan sebutan pikun. Padahal, lupa dan pikun sebenarnya dua hal yang berbeda.

"Sebenarnya lupa dan pikun sesuatu yang tidak sama, sesuatu yang berbeda," jelas Dr dr Ninik Mudjihartini MS dari Departemen Biokimia dan Biologi Molekuler FKUI dalam seminar web untuk awam "Kiat Sehat Lansia Pasca Pandemi Covid-19", Sabtu (18/12).

Lupa, lanjut Dr Ninik, merupakan peristiwa di mana tidak dapat ditimbulkannya kembali informasi-informasi yang telah diterima dan disimpan. Pada lupa, hilang pula kemampuan untuk menyebut atau memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah dipelajari.

Dr Ninik mencontohkan, dahulu sebagai mahasiswi kedokteran dia belajar mengenai obat, mulai dari nama-nama hingga kegunaannya. Namun seiring berjalannya waktu dan Dr Ninik tak lagi melakukan praktik klinik, informasi tersebut tidak dia gunakan.

"Sehingga hal itu hilang, atau hanya tertinggal dalam jumlah sedikit. Namun kalau saya mau mengembalikan ingatan itu, saya dapat melatih untuk kembali mengingat hal-hal tersebut, informasi yang sudah saya dapat," ungkap Dr Ninik.

Ada dua teori yang dinilai menjadi penyebab terjadinya lupa. Yang pertama adalah teori atopi, di mana lupa terjadi karena informasi terlalu lama disimpan sehingga menjadi rusak atau bahkan hilang dari ingatan.

Teori yang kedua adalah teori interferensi. Mengacu pada teori ini, lupa terjadi karena informasi yang disimpan dan yang akan ditimbulkan kembali terlalu banyak sehingga menimbulkan interferensi.

Berbeda dengan lupa, pikun merupakan kondisi di mana menurunnya kemampuan berpikir secara drastis. Penurunan ini dipicu oleh penurunan fungsi jaringan otak. Pikun juga dikenal dengan istilah demensia. Gejala pikun biasanya akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

"Pikun itu bukan gejala normal dari proses penuaan. Gejala normal (proses penuaan) itu lupa. Pikun itu lebih sebagai suatu kelainan," ungkap Dr Ninik.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya pikun atau demensia. Sebagian di antaranya adalah kebiasaan merokok, konsumsi gula terlalu banyak, dan makan terlalu banyak. Kurang tidur dan kurang menstimulasi pikiran juga dapat memicu terjadinya pikun.

Demensia itu sendiri merupakan istilah payung untuk menggambarkan sekumpulan penyakit otak dan gejala-gejalanya. Gejala tersebut meliputi kehilangan ingatan, kesulitan untuk membuat keputusan, perubahan kepribadian, dan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Sekitar 60-70 persen kasus demensia adalah penyakit Alzheimer. Beberapa penyakit lain yang juga termasuk ke dalam demensia adalah demensia vaskular, demensia frontotemporal, demensia lewy body, dan bentuk demensia lain seperti penyakit Parkinson atau penyakit Huntington.

Dr Ninik mengatakan ada empat hal yang bisa dilakukan untuk mencegah pikun. Dua di antaranya adalah "memberi makan" otak dengan mengonsumsi makanan yang bergizi serta kaya omega-3 dan olahraga. Dua upaya lainnya adalah olah otak dan mengistirahatkan otak. "Datang ke dokter bila ada tanda demensia atau pikun," tukas Dr Ninik.


Sumber :

https://www.republika.co.id/berita/r4b5h9328/sering-disamakan-ini-perbedaan-mendasar-lupa-dan-pikun

Tuesday, September 14, 2021

Pikun Digital

Makin Banyak Orang Sakit "Pikun Digital"

24/06/2013, 17:17 WIB 

Istilah "digital dementia" mungkin belum akrab di telinga. Tetapi mereka yang mengalami penyakit ini terus mengalami peningkatan seiring perubahan gaya hidup akibat perkembangan teknologi. Seperti dilansir surat kabar JoongAng Daily , para ahli kesehatan di Korea Selatan melaporkan peningkatan jumlah kasus kepikunan yang disebabkan ketergantungan pada gadget dan barang elektronik. 

Penyakit yang disebut "digital dementia" atau kepikunan digital saat ini melanda kaum muda yang kecanduan berat pada gadget atau barang digital lainnya. Kecanduan membuat mereka tak mampu lagi mengingat hal-hal detil dalam kehidupan sehari-hari semisal nomor ponsel pribadi. 

Korsel merupakan salah satu negara dengan koneksi digital paling baik di dunia saat ini. Namun  negara ini juga mengalami dampak buruknya seperti munculnya masalah kecanduan internet di kalangan dewasa dan anak-anak. 

Negara Ginseng ini juga tengah menghadapi ancaman kasus demensia digital di usia muda. Digital demenita  (istilah yang dipopulerkan di Korsel) merupakan penurunan kemampuan kognitif yang sebenarnya lebih banyak muncul pada orang-orang yang mengalami cedera pada bagian kepala atau gangguan kejiwaan. 

"Penggunaan smartphones dan konsol game berlebihan bisa mengganggu keseimbangan perkembangan otak," kata Byun Gi-won, seorang dokter yang berpraktik di Balance Brain Centre Seoul. 

"Pengguna berat cenderung hanya mengembangkan bagian otak kirinya, sehingga otak kanannya tidak tersentuh atau tidak berkembang," ujarnya. Otak kanan manusia berhubungan dengan daya konsentrasi. Apabila bagian otak ini gagal berkembang, dapat mempengaruhi perhatian dan daya ingat, di mana sebanyak 15 persen kasus dapat menyebabkan terjadinya demensia di usia dini. 

Mereka yang mengalami "kecanduan" ini juga dilaporkan menderita keterbelakangan dalam perkembangan emosi.  Anak-anak berisiko lebih besar mengalaminya ketimbang orang dewasa karena otaknya masih dalam proses pertumbuhan. 

Menurut para dokter di Korsel, kondisinya saat ini lebih memburuk karena persentase anak berusia 10 -19 tahun yang menggunakan smartphone lebih dari 7 jam sehari mengalami kenaikan hingga 18,4 persen. 

Angka ini meningkat dari hanya 7 persen tahun lalu. Lebih dari 67 persen warga Korsel saat ini memiliki smartphone, atau tercatat sebagai yang tertinggi di dunia . Ironisnya, 64 persen pemilik smartphone ini adalah remaja.  

Angkanya melonjak tajam dari hanya 21,4 persen pada 2011, menurut data Kementerian Ilmu, ICT dan Perencanaan Masa Depan Korsel Dr Manfred Spitzer, salah seorang pakar ilmu saraf Jerman, yang mempublikasikan buku berjudul "Digital Dementia" pada 2012 pernah memperingatkan para orang tua dan guru akan bahaya  gadget.  

Penggunaan ponsel, laptop atau konsol game secara berlebihan di usia dini dapat mengancam perkembangan jiwa mereka di kemudian hari. Dr Spitzer mengingatkan bahwa defisit atau atau kegagalan dalam perkembangan otak bersifat permanen. Ia bahkan meminta kepada pemerintah Jerman menerapkan larangan penggunaan media digital  dalam pengajaran anak-anak di sekolah karena khawatir akan kecanduan. 


Sumber :

https://health.kompas.com/read/2013/06/24/1717056/Makin.Banyak.Orang.Sakit.Pikun.Digital..

Wednesday, September 8, 2021

Tanda-Tanda Pikun Dini

6 Tanda-Tanda Pikun Dini yang Perlu Diwaspadai, Salah Satunya Bersikap Apatis

Sabtu, 28 Agustus 2021

Pikun atau demensia merupakan istilah dari gejala yang muncul dan memengaruhi fungsi kognitif seseorang, seperti kemampuan berpikir, mengingat, dan berlogika yang baik.

Kondisi ini makin memburuk dari waktu ke waktu, sehingga penting untuk menyadari gejala pikun dini supaya bisa melakukan pencegahan yang tepat. Pikun atau demensia dini terjadi umumnya karena ada faktor psikologis dan stres.

Pada beberapa orang juga bisa disebabkan oleh gangguan autoimun yang menyerang otak. Selanjutnya akan dijelaskan tentang beberapa ciri pikun dini yang muncul tanpa disadari.

Yuk, simak ulasan lebih lanjutnya, Kids.

Orang yang mulai menunjukkan gejala pikun dini biasanya mudah melupakan banyak hal atau memori.rawpixel.com Orang yang mulai menunjukkan gejala pikun dini biasanya mudah melupakan banyak hal atau memori.


1. Mudah Lupa

Berkurangnya daya ingat juga menjadi salah satu ciri seseorang mengalami kepikunan dini.

Kondisi ini membuat kamu mudah melupakan sesuatu seperti informasi baru atau informasi penting yang tersimpan dalam otak, seperti tanggal atau suatu tempat.


2. Sering salah lokasi dan waktu

Kamu cenderung mudah lupa arah dan hari. Orang yang mengalami pikun dini biasanya sangat sering memiliki gejala ini.

Mereka sering keliru menyebut nama tempat atau bahkan peristiwa.

Kadang orang-orang ini juga mengalami kesulitan mengingat di mana dia sekarang dan bagaimana caranya bisa berada di tempat tersebut.


3. Apatis

Gejala lain dari pikun dini adalah sikap apatis.

Hal ini bisa ditandai dengan mulai hilangnya minatmu pada hobi atau aktivitas yang biasanya kamu sukai.

Kamu juga kehilangan keinginan untuk bersosialisasi dengan orang lain, tanpa sadar kamu berubah menjadi pribadi yang antisosial.


4. Enggak bisa mengambil keputusan

Orang yang mengalami pikun dini akan mengalami kesulitan ketika harus menentukan pilihan yang lebih rasional.

Bahkan ada kecenderungan untuk membeli banyak barang yang sebenarnya enggak kamu perlukan.

Untuk hal sepele sekalipun, kamu menemukan kesulitan untuk mengambil sikap, terkadang juga mulai kurang memperhatikan kebersihan dan kerapihan diri sendiri.


5. Berusaha keras untuk beradaptasi di lingkungan baru

Ketika memiliki gejala pikun dini, mulai kesulitan untuk mengenali dan mengingat nama orang atau bahkan mengikuti intruksi atau pesan yang diberikan kepadanya.

Karena cenderung kesulitan untuk memulai hal baru, ini menjelaskan kenapa kamu menyukai hal-hal yang dianggap membosankan bagi orang lain.


6. Hilang inisiatif

Kamu berubah jadi pribadi pasif yang suka melakukan hal sama untuk waktu yang lama.

Kamu merasa duduk tanpa melakukan apa-apa menjadi hal yang menyenangkan, hal ini bisa jadi tanda atau gejala bahwa kamu mulai terjangkit pikun dini.


Sumber :

https://kids.grid.id/read/472861548/6-tanda-tanda-pikun-dini-yang-perlu-diwaspadai-salah-satunya-bersikap-apatis?page=all

Thursday, January 28, 2021

Dampak Kurang Tidur Jadi Pikun

Dampak Kurang Tidur: Dari Cepat Pikun Sampai Depresi 

Kurang tidur bukan lagi fenomena baru yang dialami masyarakat modern. Bahkan mungkin Anda sendiri juga habis begadang semalam, entah karena kerja lembur atau bersenang-senang. 

Tapi awas. Akibat kurang tidur tidak hanya membuat Anda jadi lesu dan mengantuk sepanjang hari, fungsi otak juga ikut merosot tajam sehingga dapat memicu munculnya beragam masalah kesehatan mental. 

Apa saja masalah kejiwaan yang mungkin terjadi akibat kurang tidur? 

1. Otak jadi lambat 

Para peneliti telah menemukan bahwa akibat kurang tidur dapat menyebabkan kewaspadaan dan konsentrasi otak menurun. Tak heran jika setelah berjam-jam (atau bahkan berhari-hari) tidak tidur nyenyak, Anda jadi suka bingung sendiri, gampang lupa, dan sulit berpikir jernih. 

Dalam dunia medis, kondisi gangguan berpikir akibat otak yang kelelahan ini sering disebut sebagai brain fog. Tapi Anda mungkin lebih familiar dengan istilah lemot. Otak yang lemot membuat Anda kesulitan mengambil keputusan penting. 

Meski terkesan sepele, brain fog ini tidak boleh disepelekan karena bisa jadi merupakan gejala awal dari penyakit demensia. 


2. Gampang lupa Ketika Anda mengantuk, 

Anda cenderung gampang lupa. Selain karena konsentrasi dan fokus otak yang memburuk, akibat kurang tidur, ingatan juga perlahan memburuk. Pasalnya selama Anda tidur, saraf-saraf dalam otak yang menyimpan ingatan punya kesempatan memperbaiki diri. 

Seorang ahli dari Fakultas Kedokteran Universitas Maryland di Amerika Serikat (AS), dr. Avelino Verceles, mengatakan, “Saat tidur, otak merekam berbagai hal yang telah kita pelajari dan alami seharian ke dalam ingatan jangka pendek.” 

(Itu sebabnya Anda juga tidak boleh pergi tidur dalam keadaaan marah) 


3. Sulit menerima informasi baru 

Kurang tidur bisa memengaruhi kemampuan Anda untuk memahami informasi baru lewat dua cara. Pertama, Anda akan menjadi tidak fokus sehingga sulit untuk menerima informasi baru. Dengan begitu, Anda tidak dapat belajar dengan efisien. 

Kedua, seperti yang telah disebutkan di atas, kurang tidur berdampak pada kemampuan mengingat. Daya ingat yang lemah akan mempersulit Anda untuk menyimpan informasi baru yang Anda pelajari ke dalam ingatan. 


4. Memicu penyakit mental 

Kurang tidur memang bukan penyebab langsung dari gangguan kejiwaan. Meskipun begitu, beragam penelitian menemukan adanya potensi besar kemunculan beberapa penyakit mental, seperti depresi, ADHD, gangguan kecemasan, dan gangguan bipolar sebagai akibat kurang tidur. 

Sebuah penelitian di Michigan, AS, mengamati seribu orang berusia 21 hingga 30 tahun. Hasilnya, mereka yang mengidap insomnia pada wawancara pertama memiliki risiko empat kali lebih besar menderita depresi ketika diwawancara lagi tiga tahun setelahnya. 

Studi lain menemukan bahwa masalah gangguan tidur terjadi sebelum munculnya depresi. Selain itu, penderita depresi yang mengalami insomnia akan lebih sulit disembuhkan dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami insomnia. 

Pada sebuah penelitian, para ahli menemukan bahwa insomnia dan gangguan tidur lainnya mungkin memperparah episode mania (manic) atau depresi (depressive) pada pasien dengan gangguan bipolar. Kurang tidur itu sendiri dipercaya dapat memicu episode mania, yaitu fase ledakan emosi atau perilaku yang tak terkendali. Akibat kurang tidur juga dapat memicu gangguan kecemasan. 

Satu studi melaporkan bahwa sekitar 27 persen pasien dengan gangguan kecemasan diawali dengan insomnia yang membuat seseorang susah tidur.


Sumber :

https://lifestyle.kompas.com/read/2017/09/07/175433920/dampak-kurang-tidur-dari-cepat-pikun-sampai-depresi?page=all#page2.

Related Posts